WARTABUMIGORA.ID|LOMBOK UTARA – Kabupaten Lombok Utara (KLU) sebagai salah satu daerah dengan tingkat kerawanan bencana cukup tinggi di Provinsi NTB, menggelar Musrenbang Tematik Kebencanaan sebagai bagian dari usulan RKPD Tahun 2027.
Kegiatan tersebut dibuka langsung oleh Bupati Najmul Akhyar dan dihadiri perwakilan Bappeda Provinsi NTB, kepala OPD lingkup KLU, NGO, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya, Selasa (03/03/2026).
Dalam laporannya, Kepala Bapprida KLU, Ir. Hermanto menyampaikan bahwa KLU berada di jalur cincin api (ring of fire) sehingga rawan terhadap gempa bumi, tsunami, dan likuifaksi. Selain itu, karakteristik wilayah pesisir, perbukitan, serta daerah aliran sungai membuat KLU juga berpotensi mengalami bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, kekeringan, angin puting beliung, hingga gelombang ekstrem.
“Dalam konteks perencanaan pembangunan daerah, pengarusutamaan pengurangan risiko bencana menjadi bagian strategis sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, serta selaras dengan kebijakan pembangunan nasional dan daerah,” ujar Hermanto.
Ia menegaskan, diperlukan forum perencanaan partisipatif yang secara khusus membahas isu kebencanaan guna memastikan integrasi program dan kegiatan penanggulangan bencana ke dalam dokumen rancangan awal RKPD 2027.
“Forum ini menjadi wadah koordinasi dan sinkronisasi antar perangkat daerah, instansi vertikal, pemerintah desa, dunia usaha, akademisi, organisasi masyarakat, serta pemangku kepentingan lainnya,” jelasnya.
Menurutnya, Musrenbang tematik ini bertujuan mengidentifikasi potensi ancaman, kerentanan, dan kapasitas wilayah; menghimpun usulan kegiatan pengurangan risiko bencana; meningkatkan partisipasi masyarakat; serta mengintegrasikan hasil pembahasan ke dalam dokumen perencanaan daerah.
“Di Provinsi NTB, Musrenbang Kebencanaan ini baru diselenggarakan di tiga kabupaten, salah satunya KLU,” tambahnya.
Sementara itu, Bupati Najmul Akhyar menyampaikan bahwa Musrenbang tematik kebencanaan merupakan langkah strategis dalam memperkuat arah pembangunan yang berorientasi pada keselamatan masyarakat.
“Dengan Musrenbang tematik, kita bisa lebih fokus mengidentifikasi setiap persoalan. Semakin banyak forum tematik, semakin mudah kita memetakan dan menyelesaikan permasalahan,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa pengalaman bencana gempa bumi tahun 2018 serta pandemi Covid-19 menjadi pelajaran penting bahwa pembangunan daerah harus dirancang dengan pendekatan pengurangan risiko bencana secara terencana, terpadu, dan berkelanjutan.
Menurutnya, Musrenbang tematik kebencanaan juga menjadi instrumen strategis untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor, meningkatkan efektivitas alokasi anggaran, serta mendorong terwujudnya daerah yang tangguh terhadap bencana.
“Hasil Musrenbang ini diharapkan menjadi landasan kebijakan dan program yang responsif terhadap risiko, adaptif terhadap perubahan iklim, serta mendukung perlindungan masyarakat secara menyeluruh,” tegasnya.
Bupati Najmul pun mengajak seluruh peserta untuk aktif memberikan masukan dan saran konstruktif demi penyempurnaan perencanaan pembangunan daerah.
“Musrenbang kebencanaan ini adalah langkah strategis menuju KLU yang tangguh terhadap bencana,” tutupnya.

0 Komentar