SPACE IKLAN

header ads

TKN 22 Pujut Jadi Motor Gerakan Numerasi Nasional, “Matematika Gembira” Ubah Cara Anak Belajar Angka

Foto. Istimewa.

Laporan: ll
Sabtu, 23 Mei 2026

WARTABUMIGORA.ID|LOMBOK TENGAH – Anggapan bahwa matematika adalah pelajaran menakutkan bagi anak usia dini mulai dipatahkan oleh TK Negeri 22 Pujut. Melalui inovasi pembelajaran bertajuk Alur Matematika Gembira, sekolah tersebut sukses mengimbaskan metode belajar numerasi yang menyenangkan kepada para guru di Kecamatan Pujut sebagai bagian dari penguatan Gerakan Numerasi Nasional.

Program pengimbasan yang dipelopori Kepala TK Negeri 22 Pujut, Umi Indrawati, S.Pd., merupakan tindak lanjut dari pelatihan yang difasilitasi Balai Guru Penggerak NTB. Kegiatan ini bertujuan memperluas pemahaman para guru terkait penerapan matematika menyenangkan di lingkungan sekolah maupun Gugus IGTKI Kecamatan Pujut.

“Tujuan utamanya adalah menyosialisasikan hasil pelatihan agar sesama rekan guru di sekolah maupun di wilayah Kecamatan Pujut dapat memahami lebih mendalam dan mempraktikkan langsung alur matematika gembira di kelas masing-masing,” ujar Umi, Jumat (22/5/2026).

Menurut Umi, pembelajaran numerasi pada anak usia dini tidak seharusnya berfokus pada kemampuan menghafal angka semata. Ia menilai pola pembelajaran yang terlalu kaku justru membuat anak merasa tertekan saat belajar matematika.

“Saya selalu menekankan kepada rekan-rekan guru bahwa matematika bagi anak usia dini itu bukan soal siapa yang paling cepat hafal angka. Kita harus berani meninggalkan pola lama yang kaku. Matematika Gembira ini mengajak anak melihat angka sebagai teman bermain melalui media konkret di sekeliling mereka,” tegasnya.

Dalam sesi diskusi dan praktik bersama, para guru menyepakati empat prinsip utama dalam penerapan metode tersebut. Pertama, matematika harus dikemas melalui aktivitas bermain, bukan metode latihan soal yang monoton. Kedua, penggunaan media konkret seperti balok, lidi, kancing, hingga benda-benda alam menjadi sarana utama belajar anak.

Ketiga, pembelajaran diarahkan pada pemahaman konsep dasar secara alami, bukan sekadar kemampuan berhitung cepat. Sementara prinsip keempat menempatkan guru sebagai fasilitator yang memberi ruang eksplorasi bagi anak-anak.

Meski demikian, penerapan metode baru tersebut tidak lepas dari tantangan. Sejumlah guru mengaku masih kesulitan menyesuaikan pendekatan pembelajaran ke dalam dokumen Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Harian (RPPH).

Menanggapi hal itu, Umi memastikan pihak sekolah terus melakukan pendampingan agar guru mampu menyesuaikan administrasi pembelajaran dengan metode yang diterapkan di kelas.

“Kami sangat terbuka dengan tantangan di lapangan. Saya katakan kepada guru-guru, jangan takut jika di awal sesi kelas terasa sedikit ‘berantakan’ atau waktu terasa lebih lama karena anak-anak terlalu asyik mengeksplorasi media. Itu adalah proses belajar yang sesungguhnya,” jelasnya.

Perubahan positif kini mulai terlihat di ruang-ruang kelas. Anak-anak yang sebelumnya cenderung pasif disebut mulai berani menghitung benda secara mandiri, mengenali pola, dan lebih aktif selama proses pembelajaran berlangsung.

“Media konkret terbukti menjadi jembatan yang sangat ampuh dalam mentransformasi konsep abstrak menjadi pengalaman nyata yang bermakna bagi anak,” tambah Umi.

Sebagai langkah keberlanjutan, TK Negeri 22 Pujut telah menyusun sejumlah Rencana Tindak Lanjut (RTL), mulai dari pendampingan penyusunan RPP Matematika Gembira, penyediaan “Sudut Matematika Gembira” di setiap kelas, hingga pemanfaatan bahan alam dan barang daur ulang sebagai media edukatif.

Umi berharap gerakan tersebut dapat terus berkembang dan menjadi budaya belajar di seluruh sekolah di Kecamatan Pujut.

“Gerakan ini harus berkelanjutan. Kami ingin setiap guru di Pujut memiliki ‘tas kreatif’ berisi ide-ide matematika yang bisa diterapkan kapan saja. Harapannya, numerasi bukan lagi beban, melainkan kegembiraan yang dinanti setiap pagi oleh anak-anak kita,” pungkasnya.

Melalui inovasi tersebut, TK Negeri 22 Pujut dinilai berhasil menjadi motor penggerak literasi numerasi yang inspiratif di Lombok Tengah, sekaligus membuktikan bahwa kreativitas guru menjadi fondasi penting dalam membangun kemampuan numerasi anak sejak usia dini.

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar