SPACE IKLAN

header ads

𝗠𝗲𝗻𝗴𝗲𝗻𝗮𝗹 𝗣𝗲𝗻𝘆𝗮𝗸𝗶𝘁 𝗟𝗮𝘆𝘂 𝗙𝘂𝘀𝗮𝗿𝗶𝘂𝗺 𝗣𝗮𝗱𝗮 𝗧𝗮𝗻𝗮𝗺𝗮𝗻 𝗣𝗶𝘀𝗮𝗻𝗴 & 𝗖𝗮𝗿𝗮 𝗣𝗲𝗻𝗴𝗲𝗻𝗱𝗮𝗹𝗶𝗮𝗻𝗻𝘆𝗮 𝗨𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗪𝗶𝗹𝗮𝘆𝗮𝗵 𝗡𝗧𝗕


Foto. Istimewa.

Oleh. Ai Rosah Aisah
POPT Ahli Pertama Balai Penerapan Standar Instrumen Pertanian (BPSIP) Nusa Tenggara Barat.

Penyakit layu Fusarium pada tanaman pisang atau dikenal sebagai penyakit Panama merupakan penyakit yang paling merusak pada tanaman pisang di seluruh dunia, terutama di daerah tropis. Penyakit ini dapat menimbulkan kerugian ekonomi dalam industri pisang karena dapat menyebabkan penurunan terhadap produksi buah pisang. Ekspor pisang jenis Gros Michel (kultivar triploid dari pisang liar Musa acuminata) dari Amerika Tengah ke Amerika Utara dan Eropa pada tahun 1940-an dan 1950-an menurun drastis karena serangan penyakit layu Fusarium. Sementara di Indonesia, penyakit layu Fusarium dilaporkan menyebabkan kerugian terhadap produksi pisang komersil Cavendish pada tahun 1990-an, seperti terjadi di Lampung, Riau, Jambi, Sulawesi Selatan, dan Halmahera. Serangan berat di daerah lainnya terjadi di Sumatera Barat (Pisang Barangan, Ambon Kuning, Raja Serai), Sumatera Utara (Barangan), dan Jawa Barat (Ambon Kuning). Di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), penyakit layu Fusarium pada tanaman pisang mulai terjadi pada tahun 1994, kemudian pada periode tahun 2002 – 2006 terjadi penurunan luas areal pertanaman pisang sebesar 50% dan penurunan produksi buah pisang sebesar 30% sebagai akibat dari serangan layu Fusarium. Kerusakan berat antara lain terjadi pada jenis pisang Kepok, Susu, dan Ketip. 

Penyakit layu Fusarium pada tanaman pisang disebabkan oleh jamur patogen Fusarium  oxysporum f.sp. cubense (Foc) yang memiliki habitat di tanah. Patogen ini menginfeksi tanaman pisang melalui luka atau perakaran, kemudian melakukan penetrasi ke dalam jaringan pengangkutan, selanjutnya berkembang dan menyebar di dalam pembuluh xilem. Hal ini menyebabkan kerusakan pada bagian pembuluh, sehingga nutrisi tidak dapat ditransportasikan ke seluruh bagian tanaman. Oleh karena itu, tanaman yang terinfeksi akan memperlihatkan gejala berupa layu, bagian tepi bawah daun berwarna kuning tua, coklat, kemudian mengering. Selain itu, jika bonggol dan batang semu dibelah akan menunjukkan garis-garis coklat kehitaman.

Penyakit yang disebabkan oleh jamur Fusarium tidak mudah untuk dikendalikan karena patogen memiliki struktur untuk bertahan di dalam tanah berupa klamidospora dan memiliki kisaran inang yang luas. Klamidospora merupakan spora aseksual yang memiliki dinding tebal, dihasilkan pada bagian hifa atau konidium, dan dapat bertahan lama di dalam tanah tanpa tanaman inang. Fusarium juga menghasilkan spora berupa mikro dan makrokonidia yang dapat menyebar melalui air, tanah, bahan tanaman sakit, dan alat pertanian. Jamur Foc memiliki beberapa ras atau strain yang dapat menginfeksi varietas pisang yang berbeda, ras 1 dilaporkan dapat menginfeksi tanaman pisang Gros Michel, sedangkan ras 4 dilaporkan paling banyak merusak tanaman pisang Cavendish. Ras 4 paling diperhatikan karena selain sangat agresif, Foc ras 4 juga resisten terhadap fungisida dan memiliki kisaran geografi yang luas. 

Mengingat karakter patogen yang tidak mudah dikendalikan, maka perlu mengadopsi pendekatan pengendalian terpadu untuk menekan penyebaran penyakit serta mengurangi kerusakan tanaman dan kerugian ekonomi. Namun, sebelum muncul gejala penyakit sebaiknya melakukan upaya pencegahan atau preventif dengan menerapkan kultur teknis sebagai berikut: 

Melakukan penanaman pisang di lokasi atau lahan yang memenuhi syarat tumbuh dan belum pernah ditanami tanaman pisang.

Menggunakan benih atau bibit yang sehat bebas Fusarium, bersertifikat, dan varietas tahan terhadap penyait layu Fusarium. Bibit yang sehat bebas Fusarium umumnya diperoleh dari perbanyakan kultur jaringan.

Menanam lebih dari satu varietas pisang.

Melakukan aplikasi pupuk organik dan agens antagonis seperti Trichoderma spp. atau Gliocladium sp. sebelum tanam.

Menjaga kebersihan dan sanitasi kebun dengan cara membersihkan gulma dan membuat saluran drainase.

Melakukan aplikasi mulsa untuk menjaga suhu dan kelembaban tanah.

Menghindari terjadinya pelukaan pada tanaman yang berpotensi menjadi jalan masuk bagi patogen. 

Membersihkan alat pertanian yang digunakan, misalnya menggunakan disinfektan atau dicuci bersih dengan sabun.

Melakukan pengamatan rutin.

Jika tanaman pisang sudah terkena gejala layu Fusarium, maka pengendalian terpadu dapat dilakukan dengan melibatkan cara kultur teknis, fisik, biologi dan atau cara kimiawi. Beberapa tindakan yang dapat dilakukan antara lain yaitu:   

Melakukan pemusnahan terhadap tanaman sakit dengan cara dibakar atau menyuntikkan minyak tanah atau herbisida. 

Melakukan aplikasi agens antagonis seperti Trichoderma spp., Gliocladium sp., Bacillus subtilis, atau Pseudomonas fluorescens.    

Menjaga kebersihan dan sanitasi kebun dengan cara membersihkan lahan dari sisa-sisa tanaman pisang terinfeksi, membersihkan gulma, dan menjaga kelembaban tanah.

Melakukan pergiliran tanam dengan tanaman lain, misalnya tanaman nanas, bawang-bawangan (kucai), atau jagung selama 2 – 3 tahun.

Melakukan aplikasi fungisida yang sesuai (bahan aktif asam fosfit, azoksistrobin, propineb, prokimidon atau benomil) sebagai opsi terakhir jika tindakan pengendalian lainnya belum efektif dalam mengendalikan penyakit layu Fusarium pada tanaman pisang. 

Penanganan penyakit layu Fusarium pada tanaman pisang melalui pendekatan pengendalian yang tepat dan penerapan praktik budidaya yang baik diharapkan dapat meminimalisir kerugian yang ditimbulkan serta tanaman pisang dapat tumbuh dengan sehat dan produktif. Selain itu, guna menghasilkan produk yang berkualitas dan memenuhi standar mutu, petani atau pelaku usahatani pisang hendaknya mengetahui atau mempelajari terkait standar prosedur operasional untuk produksi buah pisang, mulai dari proses budidaya sampai dengan penanganan pascapanen buah pisang.

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar