SPACE IKLAN

header ads

Ahmad Ali yang Eksotis, Sudirman Said yang Dialogis

Foto. Ilustrasi


Oleh Yusuf Blegur

Ahmad Ali dan Sudirman Said merupakan dua sosok yang berbeda gaya dan citra, meski sama-sama dalam Timnas AMIN. Sering bertolakbelakang dan terkesan saling menegasikan. Namun satu hal yang sama pada keduanya, yakni komitmen dan konsisten  serta loyal mendukung pasangan Anies-Gus Imin,  betapapun konsekuensi dan resiko yang berat menghinggapi  mereka.

Watak yang keras dan pendirian yang tegas, itulah gambaran sepintas yang melekat pada sosok Ahmad Ali. Penulis pernah berkesempatan bercengkerama dengan beliau walaupun sebentar dan hanya sesekali. Ada kesan yang dalam terhadapnya. Pengusaha sekaligus politisi kawakan itu memang punya karakter yang kuat. Hangat, terbuka dan meledak-ledak, namun teguh pada pendirian. Cenderung suka melawan mainstream dan ceplos-ceplos. Ahmad Ali juga dikenal murah hati dan dermawan. Ahmad Ali menjadi  orang penting yang total dengan sumber daya yang dimilikinya, untuk mendukung Anies bahkan sebelum partai Nasdem mendeklarasikan Anies sebagai capresnya.

Lain lagi dengan Sudirman Said, penulis juga punya penilaian sendiri terhadapnya. Beberapakali berinteraksi, Sudirman Said kental dengan gaya bahasa yang tenang, sikap yang teduh, kuat dalam wilayah konseptual dan praksis. Sudirman Said juga Kerap memberikan support kepada yang membutuhkan terlebih pada kerja-kerja pemenangan pasangan AMIN.

Jauh sebelum penentuan Gus Imin sebagai cawapres Anies, penulis berkesempatan makan siang bersama di kediaman Ahmad Ali  di bilangan Kebun Jeruk Jakarta Barat. Suasana terasa santai namun sarat obrolan strategis di sela-sela menyantap masakan yang lezat dan penuh gizi. Dia begitu sangat memahami dan menguasai masalah, mulai dari perencanaan dan bagaimana mengelola hingga mencapai tujuan.

Menjelang pergantian tahun 2023 ke 2024 yang begitu dekat dengan agenda pilpres. Ahmad Ali melontarkan pernyataan yang menghebohkan dan dianggap kontroversi khususnya di kalangan pendukung pasangan capres-cawapres Anies dan Gus Imin. Banyak yang menilai statemen wakil ketua umum partai Nasdem itu terlalu keras, provokatif dan dianggap berpotensi menimbulkan perpecahan di kubu pendukung pasangan AMIN. Pernyataan orang dekat Surya Paloh itu dinilai telah menimbulkan polemik yang bisa mengganggu pemenangan tim AMIN.

Lalu apa yang memicu semua itu dari pernyataan Ahmad Ali?. Kepala Pelatih Timnas AMIN itu menyatakan sebuah ketololan jika berkomunikasi dengan paslon lain yang menjadi lawan politik. Pernyataan yang ditenggagarai tendensius kepada Sudirman Said yang menjadi jubir Timnas, kontan menimbulkan kegaduhan di internal pendukung pasangan AMIN. Ahmad Ali juga menganggap Sudirman Said telah mencampuri urusan yang menjadi kewenangan partai  Nasdem. Sempat  muncul  sikap reaksioner dari Sudirman Said, juga  beberapa komentar pro dan kontra dalam internal Timnas AMIN. Kegaduhan pada  akhirnya mereda saat Ahmad Ali meminta maaf dan menghimbau kepada semua pihak agar masalahnya tidak terus menimbulkan polemik dan bisa diakhiri. Perlahan polemik itu mulai menghilang dan kemudian dianggap selesai.

Kritik Otokritik yang sehat di Kubu AMIN

Perdebatan antara Ahmad Ali dan Sudirman Said soal penting atau tidaknya untuk menjalin komunikasi dan kemungkinan menjajaki kerjasama dengan paslon lain yang menjadi salah satu rival. Wacana itu menjadi menarik dan mampu menunjukan geliat demokrasi sekaligus “intelektual excersise” yang sehat di Timnas AMIN. Ini berarti merepresentasikan kubu pendukung AMIN mulai dari partai politik, birokrasi,  pengusaha dan akademisi hingga para relawan. Mampu menegaskan  dalam kubu AMiN, sejatinya tidak alergi pada perbedaan pendapat terhadap masalah dan solusinya dalam upaya memenangkan pasangan AMIN.

Ahmad Ali bisa jadi sedang berusaha meyakinkan ke semua anasir pendukung pasangan AMIN, bahwasanya komitmen, konsistensi dan integritas pada perjuangan memenangkan Anies-Gus Imin sebagai presiden  dan wakil presiden saat kontestasi pilpres 2024, harus dijaga dan dikawal sepenuh hati. Termasuk untuk tidak bersentuhan maupun menjalin komunikasi  dengan kompetitor. Terlebih kepada paslon yang keduanya disinyalir menjadi sub ordinat  dari rezim kekuasaan distortif dan yang ingin melanggengkan kekuasaan. 

Selain mereduksi sikap dan mental  oposisi serta  kerja-kerja politik yang penuh resiko selama memperjuangkan pasangan AMIN. Upaya menjalin komunikasi apalagi sampai bekerjasama dengan paslon yang tidak mengusung perubahan dan berorientasi pada membangun Indonesia yang lebih baik. Hal itu layak disebut ketololan dan mungkin juga sebagai penghianatan, mungkin seperti itu di mata Ahmad Ali. Di luar itu, wajar Ahmad Ali gigih menjaga Marwah pasangan AMIN, mengingat dia menjadi salah satu orang yang berhasil mengawinkan Anies dan Gus Imin menjadi pasangan capres-cawapres.

Berbeda dengan Sudirman Said, mantan menteri dan pernah menjadi calon gunernur Jawa Tengah itu, mencoba mengambil peran-peran terbuka sebagai sosok yang mendukung,  sekaligus jubir Timnas AMIN. Sudirman Said lebih menampilkan sikap politik yang moderat dan akomodatif terhadap konstelasi dan konfigurasi politik pilpres yang berkembang. Sudirman Said berkeyakinan dengan terjadinya polarisasi dan tensi yang tinggi di antara kedua paslon yang menjadi rival pasangan AMIN, membuka peluang sinergi dan kolaborasi yang menguatkan pasangan AMIN baik untuk pertama maupun putaran kedua pilpres 2024. Ada blessing selain kerangka taktis dan strategis saat menghadapi kontestasi capres dan cawapres yang begitu dominan dipengaruhi variabel politik yang luas, boleh jadi seperti itu yang ada dalam benak Sudirman Said.

Ahmad Ali tak bisa disalahkan, begitupun dengan Sudirman Said. Keduanya memiliki perspektif politik yang sama-sama visioner dan akurat. Kedua sosok penting dalam kubu pasangan AMIN ini telah mengukir capaian yang maksimal dan terus bertumbuh untuk memenangkan Anies dan Gus Imin sebagai presiden dan wakil presiden pilihan rakyat Indonesia. Kerja cerdas, kerja cerdas dan spartan menampilkan inisiasi, kreatifitas dan inovasi politik sejauh ini untuk membesarkan pasangan AMIN,  tak terhitung lagi dilakukan Ahmad Ali dan Sudirman Said. Keduanya dalam hal ini hanya berbeda sudut pandang   dan  kalkulasi politik. Hal-hal demikian sah-sah saja sejauh tidak kontra produktif dan menjadi bumerang bagi pasangan AMIN.

Publik pada umumnya dan  internal pendukung pasangan AMIN, layak belajar pada keduanya. Ahmad Ali dan Sudirman Said memberikan pelajaran penting, tentang bagaimana demokrasi bisa hidup dengan kebebasan  ekspresi namun rasional dan  bertanggungjawab, tidak mengabaikan etika dan kesetaraan serta yang paling penting tidak feodal dan menyuburkan politik dinasti. Ada proses dialektika di balik perdebatan Ahmad Ali dan Sudirman Said yang selama ini langka dipertontonkan diruang publik, terutama dalam lingkungan partai politik, birokrasi dan  di kalangan akademisi. Menarik dan menggembirakan sekaligus menjadi ajang pembuktian, kubu pemenangan pasangan AMIN begitu kaya akan kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual. 

Ahmad Ali dan Sudirman Said pada akhirnya telah memberikan semacam tutorial penting bagi siapapun yang mendamba perubahan, kepentingan taktis dan strategis sekalipun tetap terbuka menampilkan diskursus dan kritik otokritik  yang sehat. Begitulah kedua punggawa pasangan AMIN berdinamika. Sebagaimana  yang telah menutup akhir tahun dan membuka lembaran tahun baru, panggung politik dihangatkan oleh Ahmad Ali yang eksotis dan Sudirman Said yang diaoligis.

Konfrontasi atau kompromi terhadap sesuatu,  sangat  ditentukan sejauh mana mengukur kekuatan dan kelemahan yang dimiliki.

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar