SPACE IKLAN

header ads

𝗛𝗮𝗿𝘂𝘀𝗸𝗮𝗵 𝗞𝗶𝘁𝗮 𝗞𝘂𝗹𝗶𝗮𝗵 𝗨𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗠𝗲𝗻𝗴𝗲𝗷𝗮𝗿 𝗡𝗶𝗹𝗮𝗶?

Foto. Istimewa.

Oleh. Rizky.

𝗗ulu tiap anak yang bersekolah punya keinginan mencapai nilai setinggi-tingginya. Seakan mendapatkan nilai tertinggi pasti akan menjamin semuanya: pekerjaan kediaman bahkan pasangan. Nilai seperti puncak dari semua yang dilakukan oleh anak sekolah. Begitu pula untuk mahasiswa. Meraih nilai tertinggi merupakan impian mahasiswa. Semua mahasiswa punya minat untuk dapat nilai terbaik.

Apapun mereka lakukan untuk mencapainya, rajin kuliah, hobby datang kuliah hingga sering datang kuliah. Nilai dan kuliah seperti pasangan yang tak terpisahkan. Kau malas kuliah pasti dapat nilai buruk dan kau rajin kuliah niscaya peroleh nilai baik. Logika yang dibangun dengan mahir sejak sekolah dasar hingga menengah atas. Di atas bangunan keyakinan itulah anak berprestasi di ukur dengan anak nilai tinggi. Padahal tak semua nilai tinggi punya hasil seperti yang diimpikan.

Kisah para jenius tak selalu berakhir bahagia. Setidaknya riset yang ditulis oleh Malcolm menyatakan itu. Christopher Langan salah satunya: ia sudah mampu bicara umur 6 bulan, pada masa remaja suka baca buku fisika dan di usia 16 tahun mampu memahami karya Betrand Russel serta Alfred North Whitehead. Ia anak jenius yang istimewa. Christopher mampu memahami karya yang amat sulit, mendapatkan nilai sempurna dan sempat tertidur saat ujian. Ia sering bolos sekolah dan masuk hanya kalau ujian saja harusnya ia menjemput kehidupan yang gemilang dengan kesuksesan yang fantastis. Tetapi masa kecil yang genius itu tak membuat kehidupannya sukses.

Kalimat pertanyaan ini tak bisa dijawab hanya oleh anak yang hidupnya lazim. Mereka yang biasa hidup dengan moralitas ketaatan: datang kuliah tepat pada waktunya menjawab soal sesuai dengan yang ada di buku, patuh pada semua aturan yang di tulis oleh kampus. Mereka niscaya tak bisa memberikan jawaban yang imaginatif karena hidup mereka tertata secara rinci. Jika kuliah memang harus dijalani ketaatan maka hidup akan selalu meluncur pada jalan yang normal. 

Begitulah kehidupan kuliah seperti sebuah persinggahan di rumah makan, kita memesan makan sesuai dengan menu yang di edarkan oleh pelayan, kita memakannya, kita membayarnya dan kemudian kita pulang. Hidup tanpa ide alternatif seperti perjalanan tanpa melihat kanan kiri, semuanya lurus dengan keteguhan baja.

Dosen hanya menjelaskan soal yang mereka kuasai saja dengan dalil yang tidak bisa kita percaya sedangkan kita memiliki ide dan gagasan sendiri harus kita kembangkan terlebih dahulu sebelum mendengarkan penjelasan dosen.

Kini sudah dijelaskan semua dan apakah kamu masih berharap dapat nilai tinggi pada setiap mata kuliah?. 

Boleh saja kamu tetap berambisi mencapai nilai setinggi-tingginya. Kuliah dengan puncak prestasi sebagai mahasiswa terpintar dan tercepat. Semua ini harapan yang berarti bagimu saat ini, tapi sesungguhnya itu semua hanya jejak yang akan mudah terhapus. Sebab keyakinan itu juga dimiliki anak-anak se usia mu.

Banyaknya nilai yang tinggi yang bisa diraih oleh siapapun kira-kira apa pesonanya? Merasa diri lebih pintar ketimbang yang lain? Merasa yakin lebih punya kesempatan terbaik dibandingkan dengan yang lain? Atau merasa memenuhi keinginan orang tua yang dikatakan berulang-ulang? 

Nilai tinggi itu hanya sebuah pernyataan unggul untuk sementara. Esok kamu bisa bertahan atau jatuh kamu kehilangan kekuatan untuk empati, simpati dan rasa yang populer dengan nama berkabung. Sebab kamu menang, kamu terpintar dan kamu merasa di atas yang lain. Itulah rumus awal menuju kemapanan lawan dari kreativitas. 

Maka kuanjurkan untuk berhenti sejenak dari ambisi yang buru oleh banyak pihak. Karena sesungguhnya bukan ambisinya yang keliru, tapi tujuan yang teramat sederhana. Kini tujuan itu perlu melompati apa menjadi pujaan banyak orang: nilai dan gelar. Tujuan itu buatlah dalam sebuah lompatan lalu kamu meneguhkan diri untuk mencapainya dengan tekad bulat.

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar