SPACE IKLAN

header ads

Catatan peringatan HUT Ke 50 MALARI : "The Last Battle for Democracy dan Lawan Politik Dinasti”

Foto. Istimewa

Rabu, 17 Januari 2024
Oleh. Mell
Editor. Baiq Nining

𝓦π“ͺ𝓻𝓽π“ͺπ—•π—¨π— π—œπ—šπ—’π—₯𝗔, π—π—”π—žπ—”π—₯𝗧𝗔 - Hari ulang tahun ke 50 Malari (Malapetaka Lima Belas Januari) di Taman Ismail Marzuki, lagu2 Iwan Fals mengiringi diawal lanjut dengan diskusi “Pertahankan Demokrasi”. Hersubeno Arif sebagai moderator memandu Dr. Chudri Sitompul, Dr. Sidratahta Muchtar dan Dr. Zainal. Diskusi mulai dengan pembedahan kehancuran demokrasi di tangan Jokowi terkait keterlibatan Jokowi meloloskan Gibran, anaknya, jadi Cawapres. Menurutnya, pelanggaran etik ketua MK ketika itu sudah menunjukkan bahwa Gibran merupakan cawapres yang tidak legitimate untuk sebuah demokrasi. Ada pengkhianatan terhadap konstitusi di sana.

Wacana pemakzulan Presiden Joko Widodo (Jokowi) mulai bermunculan. Walau beberapa tokoh teriak, tapi aksi lengserkan Jokowi masih dingin alias adem. 

Isu lengserkan Jokowi baru ramai di kalangan elit serta aktivis. Para aktivis dan beberapa tokoh sudah mulai bermunculan dan teriak pemakzulan Jokowi. 

Jokowi dianggap tidak netral dan melakukan nepotisme. Mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo bersuara. Dia mengutip perkataan Proklamator Ir Soekarno tentang pemuda bisa mengguncang dunia kini diputar Jokowi.

Gatot menyebut Soekarno bicara sepuluh pemuda, Jokowi justru memberikan satu pemuda yang namanya Gibran Rakabuming Raka, Indonesia terguncang karena ditengarai membajak Mahkamah Konstitusi (MK).  

“Bung Karno mengatakan beri aku sepuluh pemuda akan ku guncang dunia, Jokowi tuh hebat cukup dia satu aja goncang semuanya dengan Gibran,” ujar mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo dalam sambutannya di acara Peringatan 50 Tahun Peristiwa Malari bertajuk “The Last Battle for Democracy dan Lawan Politik Dinasti” yang digelar di Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat, Senin (15/1).

Mendengar sindiran Gatot tersebut, sontak ratusan aktivis yang memadati Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki pun tertawa terbahak-bahak.

“Kegagalan yang diwariskan niscaya akan menimbulkan bencana besar buat bangsa ini. Oleh karena itu, kita harus hentikan mewariskan kegagalan itu. Tidak ada kata lain, pemilu jalan, makzulkan Jokowi jalan!” tegas Ekonom Senior INDEF, Faisal Basri. 

Aktivis Malari, Hariman Siregar menyebut Jokowi lebih berbahaya dari SBY. Pasalnya, seburuk-buruknya pemerintahan era SBY, Jokowi justru lebih berbahaya dalam konteks pelemahan demokrasi.  

“SBY itu cuma apa ya, dia tetap seorang Demokrat, walaupun di sini lemah, di situ lemah. Tapi kalau Jokowi ini benar-benar berbahaya,” kata Hariman dalam sambutannya.

Hadir dalam acara tersebut Syahganda Nainggolan, Helmy Fauzi, Indra Adil, Bursah Zarnubi, Paskah Irianto, Faizal Basri, Indro Tjahyono , Jusman S.D., Rudiantara, Gurmilang Kartasasmita, Beathor Suryadi, Herdi Sahrasad, Dr. Connie Rahakundini Bakrie, Mantan Panglima TNI Jenderal (purn) Gatot Nurmantyo, Ubedilah Badrun, Faizal Assegaf, Firman Tendry, Andi Gembul, Masinton Pasaribu, Dr. Ahmad Yani, Rizal Fadhillah, Syafril Sofyan, Marwan Batubara, Memet Hakim, Eggi Sudjana, Muslim Arbi, Akbar Faizal, Eep Saefulloh Fatah, Hendry Harmen, Wahyono, Andi Sahrandi, Noor Cholis (Gepeng), Haris Rusli Moti, Rinjani, Sunarti SBSI, Said Didu, Adhi Massardi, Gde Siriana, Ariyadi Achmad, Isti Nugroho, Anthony Budiawan, Moh. Jumhur Hidayat, dll.

Pemakzulan Jokowi

Suara pemakzulan Jokowi dimulai oleh Eep S. Fatah. Eep, alumni Fisip UI, memastikan Jokowi telah menghancurkan demokrasi dengan upayanya melanggengkan kekuasaannya secara haram. Menurut Eep, "Jokowi melanggar konstitusi. Namun, Eep menyerahkan strategi pemakzulan itu dengan dua cara, yakni pertama pemakzulan di luar pemilu, kedua mengalahkan Prabowo-Gibran dalam pilpres nanti".

Conni Rahakundini Bakri ketika tampil di panggung, berbicara hal yang sama. Menurutnya "Era Jokowi sudah berakhir. Namun, politik dinasti dan kehancuran demokrasi akan berlanjut jika penerusnya, yakni Prabowo-Gibran, berkuasa. Ini harus dilawan".

Hariman akhirnya menutup acara yang panas tersebut dengan catatan bahwa "Demokrasi harus diselamatkan. Ambisi-ambisi Jokowi harus dihentikan. Penghancuran demokrasi oleh Jokowi bisa karena kesalahan jiwa Jokowi atau kelemahan “civil society”. Oleh karena itu,kaum aktifis harus menyelamatkan demokrasi".

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar