SPACE IKLAN

header ads

Bima Ramah Versus Bima Berkah

Foto. Istimewa.

Penulis : Bang Ady, Dosen Kebijakan Publik Universitas Mbojo Bima. 

𝓦𝓪𝓻𝓽𝓪𝗕𝗨𝗠𝗜𝗚𝗢𝗥𝗔,𝗕𝗜𝗠𝗔- Ramah, kata yang merupakan akronim yang terdiri dari Religius, Aman, Makmur dan Handal, menjadi sebuah visi yang ingin dituju dan harapan untuk dapat diwujudkan menjadi kenyataan. Demikianlah sebuah visi digagas, menjadi sebuah arah, jalan penuntun untuk kita menuju kepada sebuah keadaan yang ideal secara konkrit.

Dalam konsep kebijakan publik visi dapat saja menjadi arah pembangunan yang ingin dituju. Visi sejatinya menjadi hamparan harapan bersama yang harus diterjemahkan dalam konsep yang operasional, dengan kata lain visi adalah jalan langit yang harus dapat membumi di sudut - sudut kehidupan. Setiap visi yang kita gagas dapat diterjemahkan dan tidak bertentangan dengan konstitusi yang ada. Bima Ramah menjadi cita -cita, untuk menunjukan dirinya entah kemana perahu yang bernama kabupaten Bima berlayar.

Bima Ramah menjadi visi sebagai arah masyarakat Bima berlabuh yang dinahkodai oleh sang kapten kapal. Kapal yang bernama Bima menjadi kapal kecil di bawah kendali kapal besar yang bernama Indonesia. Arah kapal kecil yang bernama Bima itu sesungguhnya dituntun oleh kapal besar yang bernama Indonesia. Kendali kapal tersebut ditentukan oleh tujuan besar yaitu sebagaimana tertuang dalam pembukaan UUD 45, kecerdasan, kesejahteraan, dan keadilan sosial bagi seluruh penumpang kapal.

Bima Ramah dapat di katakan penjabaran dari Indonesia dengan tujuanya. Sebagaimana masyarakat lokal yang memiliki keunikan menjadi satu kekuatan untuk membangun dirinya dengan keunikan dan potensi yang ada. Kabupaten Bima dengan segala potensi SDA yang seharusnya mampu membawa senyum yang ramah bagi seluruh masyarakat untuk menikmatinya. Hamparan sawah yang luas sejauh mata memandang di setiap sudut wilayah, laut yang luas, ada lagi yang menarik hamparan tambak garam dan bandeng yang juga cukup luas, hasil pertanian sebagai komoditi unggulan yang besar sudahkan membawa senyum atau sikap ramah bagi masyarakatnya. 

Konsep Bima ramah sesungguhnya dapat saja menjadi wajah pembangunan yang ada di abupaten Bima. Sejatinya apapun konsepnya masyarakatlah yang dapat merasakan dan menikmatinya. Bima ramah jika dapat  dijabarkan boleh jadi suatu pemikiran yang cukup baik. Namun apakah Bima ramah mampu menjawab tuntutan dan kebutuhan masyarakat saat ini. Bima Ramah yang merupakan dari akronim yang ada, misalkan Religius sepertia apa yang kita inginkan…?

Menjadi tanggung jawab yang besar bagi pemerintah daerah yang menentukan arah pembangunan daerah dengan konsep Bima Ramah sebagai suatu visi masa depan yang di tuju. Serelijius manakah masyarakat yang dimaksud, apakah yang dapat menunjukkan bahwa hari ini masyarakat kita religius. Jika kita melihat pembangunan di bidang agama, kita boleh bertepuk tangan terhadap apa yang telah dilakukan oleh pemerintah, sebut saja pembangun masjid agung yang menelan biaya yang tidak sedikit, bisa jadi itu prestasi dalam pembangunan bidang agama tetapi yang diharapakan setelah pembangunan masjid itu dilakukan sesungguhnya bagaimana pemanfaatannya bagi masyarakat, bagi kesejahteraan masyarakat, bagi kemakmuran masyarakat, apakah dapat memberikan hal yang postif bagi daerah, di samping masyarakatnya religius paling tidak PAD dpat meningkat disaat aktivitas yang relijius  tersebut.  Belum lagi akronim lain yang menjadi perhatian kita. Belum lagi akronim lain yang dapat kita teruskan  menjadi pertanyaan kita sebagai kaum intelektual dan terdidik yang memiliki perhatian besar dalam pembngunan daerah bagi kehidupan masyarakat yang lebih baik. Apapun Bima ramah hemat penulis sesungguhnya harus dapat membawa senyum ramah bagi masyarakat kabupaten Bima terlepas apapun program yang dapat di bangun dari Bima Ramah.

Bimar ramah, jiak kita sandingkan dengan konsep lain yang dapat saja menjadi alternatif mewujudkan Bima RAMAH dapat saja dilakukan dengan konsep lain yaitu Bima BERKAH, bisa jadi ini dapat melanjutkan bima ramah sebagaimana yang menjadi harapan awal nakhoda kapal yang Bernama kabupaten Bima. Hemat penulis “ kehidupan yang berkah akan membawa senyum ramah bagi masyarakatnya “. Oleh karena itu, Bima berkah merupakan pondasi kehidupan yang menjadi tujuan hidup kita, sebagaimana orang Bima pada umumnya, selalu berdoa dan mendoakan keberkahan bagi kehidupan. Bima yang kental dengan nilai religius sebagaimana yang diharapkan dalam Bima ramah sungguh tidak dapat disangkal bahwa masyarakat bima cukup religius,maka Bima berkah menjadi sebuah kekuatan yang diharapkan dapat diwujudkan bagi sebuah gagasan pembangunan ditingkat lokal yang sejalan dengan nilai - nilai kerafan lokal yang ada. 

Sebagaimana kebiasaan kita orang Bima yang selalu mengharap berkah dari  sang khalik, dari segala bentuk aktivitas yang dilakukan, tentu demikian juga pemerintah daerah sebagai bagian dari satu masyarakat hukum secara admnitratif. Sebagai sebuah masyarakat daerah tentunya juga selalu berupaya membangun  daerah dengan harapan penuh keberkahan. Apa lagi masyarakat Bima mayoritas islam, dengan demikian nilai - nilai keislaman tumbuh dan hidup dalam jiwa masarakatnya. Dalam satu ayat Al - Qur’an yang terjemahanya bahwa, “ apabila suatu negeri beriman kepada tuhannya, maka akan lahir keberkahan dari langit dan dari bumi “ . Iman adalah pondasi sedangkan berkah adalah tujuan dan harapan. Dalam setiap momen doa orang Bima menutup doa dengan ungkapan “ breka lailaha illah breka Muhamdarasulullah “. 

Do’a merupakan harapan dan tujuan, boleh jadi penutup aktvitas setelah kita bekerja kita berdo’a atau sebagai tujuan dan dapat juga mengawali aktivitas atau sebagai harapan, sebelum aktivitas kita juga selalu berdo’a dengan kata lain Bima BERKAH  seolah pada akhirnya adalah doa kita bersama, sebelum atau setalah kita bekerja membangun Bima kita berdoa untuk keberkahan dalam kemakmuran masyarakat Bima. Hemat penulis BERKAH merupakan uraian dari akronim Beriman, Etika, Ramah, Kokoh/konsisten, Amanah, Handal, itulah BERKAH. Pada akhirnya Bima yag bekah adalah Bima yang mampu membangun dirinya dengan segala potensi yang ada, dengan segala kearifan yang dimilikinya dalam mencapai hal-hal yang produktif dapat memberkan dampak bagi peningkatan PAD tetapi bukan konsumtif yang hanya menghabisakan APBD bagi kemajuan Bima yang lebih baik, Insyaallah, dengan kata lain produktif yang dimaksud apapun programnya dapat meningkatkan PAD. Itulah Bima BERKAH.

Bagi sebuah organisasi atau institusi BERKAH dapat saja menjadi visi organisasi baik besar maupun kecil, swata ataupun pemerintah, karena sejatinya setiap kita selalu mencari keberkahan. Jika kita kaitkan dengan konsep lain bahwa berkah merupakan kata lain dari mutu atau kualitas.

Berkah dapat saja menyangkut kualitas daerah membangun dirinya untuk menjadi handal/unggul/bermutu. demikian semoga bermanfaat. Insya Allah Berkah

Tulisan ini merupakan tawaran konsep yang dapat menjadi arah pembangunan Bima ke depan dalam mewujudkan dou labo dana mbojo yang berkah…., dalam bahasa Bima yang kita sering mengucapkan brekah (berkah).“ breka lailaha illalah breka Muhamdarasulullah “.

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar