SPACE IKLAN

header ads

SMKN 1 Gerung Kekurangan 16 Ruang Kelas, Minat Siswa Terus Meningkat

Foto. Istimewa.

Laporan : Zul
Sabtu, 20 Juni 2026.

WARTABUMIGORA.ID|LOMBOK BARAT - Kepala SMKN 1 Gerung, Hj. Erni Zuhara, M.Pd., mengungkapkan bahwa tingginya minat masyarakat untuk menyekolahkan anaknya di SMKN 1 Gerung belum diimbangi dengan tersedianya sarana dan prasarana pendidikan yang memadai. Saat ini, sekolah memiliki 33 rombongan belajar (rombel) dengan jumlah siswa mencapai 1.180 orang, sementara ruang kelas belajar (RKB) yang tersedia hanya 17 ruang.

“Dengan jumlah 33 rombel dan 1.180 siswa, kami saat ini masih mengalami kekurangan 16 ruang kelas belajar. Kondisi ini menjadi tantangan besar bagi sekolah, terutama minat masyarakat untuk masuk ke SMKN 1 Gerung terus meningkat setiap tahunnya. Akibat keterbatasan sarana, kami belum mampu mengakomodasi seluruh calon peserta didik yang ingin bersekolah di sini,” ujar Hj. Erni Zuhara , Sabtu, 20 Juni 2026.

Ia menjelaskan bahwa sebagai salah satu sekolah favorit di Kabupaten Lombok Barat, SMKN 1 Gerung masih menghadapi permasalahan serius terkait penyediaan standar layanan pendidikan. Selain kekurangan ruang kelas, sekolah juga membutuhkan tambahan ruang praktik siswa yang menjadi kebutuhan utama dalam pendidikan kejuruan.

“Dari delapan jurusan yang ada, baru dua jurusan yang memiliki ruang praktik siswa yang memadai. Padahal ruang praktik dan ruang kelas belajar merupakan standar minimal yang harus dipenuhi untuk mendukung proses pembelajaran yang berkualitas,” jelasnya.

Tidak hanya sarana dan prasarana, SMKN 1 Gerung juga menghadapi kendala dalam penyediaan tenaga pendidik produktif yang sesuai dengan kompetensi keahlian masing-masing jurusan. Menurutnya, kebutuhan guru produktif masih menjadi persoalan yang belum sepenuhnya teratasi.

“Kalau di SMK ada guru normatif dan guru produktif. Guru produktif inilah yang saat ini sangat sulit terisi. Misalnya untuk jurusan perhotelan harus memiliki guru yang berlatar belakang pariwisata, sedangkan untuk kuliner harus sesuai dengan bidangnya. Karena keterbatasan tenaga produktif, banyak guru yang saat ini mengajar melebihi 36 jam pelajaran dalam seminggu, bahkan dari pagi hingga sore hari,” katanya.

Pihak sekolah, lanjut Hj. Erni, telah berupaya melakukan berbagai langkah, termasuk pemerataan dan redistribusi tenaga pendidik. Namun hingga kini kebutuhan guru produktif masih belum terpenuhi secara optimal. Bahkan pada penempatan guru PPPK sebelumnya, beberapa guru produktif yang sangat dibutuhkan justru ditempatkan di sekolah lain.

“Kami berharap pemerintah dapat memberikan perhatian terhadap kebutuhan guru produktif di SMKN 1 Gerung. Misalnya, pada Jurusan Desain Produksi Busana saat ini kami hanya memiliki satu guru ASN, sementara kebutuhan lainnya masih ditopang oleh guru tidak tetap,” ungkapnya.

Hj. Erni berharap pemerintah daerah maupun pemerintah provinsi dapat memberikan dukungan terhadap penyediaan sarana, prasarana, serta kebutuhan energi pendidik di SMKN 1 Gerung agar standar layanan pendidikan minimal dapat terpenuhi.

“Harapan kami sederhana, yaitu terpenuhinya standar layanan pendidikan minimal, baik dari sisi ruang kelas, ruang praktik maupun tenaga pendidik. Sekolah ini sudah berdiri selama 22 tahun dan masih menghadapi kekurangan ruang belajar. Jika sarana, prasarana dan kebutuhan guru dapat terpenuhi, maka kualitas layanan pendidikan akan semakin baik, lulusan mampu bersaing di dunia kerja, dan pada akhirnya dapat membantu mengurangi angka penurunan,” tutupnya.

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar