WARTABUMIGORA.ID | BIMA – Dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dikelola SPPG Bima Monta Sakuru kembali menjadi sorotan publik. Sejumlah keluhan terkait kualitas menu makanan hingga keterlambatan distribusi mencuat di media sosial dan menjadi perbincangan di kalangan penerima manfaat.
Sorotan terbaru datang dari salah seorang guru di SMP Negeri 7 Satap yang mempertanyakan kualitas nasi yang disajikan dalam paket MBG. Keluhan tersebut disampaikan melalui unggahan akun Facebook bernama "Dhion Dhian".
Dalam unggahannya, ia menulis, "Nasi kuning atau nasi biasa ini? Mohon diperbaiki, kok nasi kuningnya tidak ada rasanya. Ini hanya sekadar saran dan masukan, terima kasih."
Unggahan tersebut kemudian memicu berbagai tanggapan dari warganet. Menanggapi kritik tersebut, akun Facebook yang mengatasnamakan SPPG Bima Monta Sakuru memberikan klarifikasi di kolom komentar.
"Itu bukan nasi kuning pak, dilarang BGN pakai nasi kuning. Racikan menu nasinya itu campur susu, makanya tidak ada rasa," tulis akun tersebut.
Pernyataan itu kemudian memunculkan pertanyaan dari sejumlah pihak terkait standar penyajian makanan dalam program MBG. Mereka mempertanyakan apakah metode penyajian tersebut telah sesuai dengan ketentuan dan pedoman yang ditetapkan oleh Badan Gizi Nasional (BGN).
Selain persoalan menu, keluhan juga muncul terkait distribusi makanan yang dinilai tidak tepat waktu. Beberapa pekan sebelumnya, unggahan akun Facebook "Widiarni Rinny" menjadi viral setelah mengungkapkan bahwa paket MBG untuk siswa SMK Negeri 1 Monta diantar saat kegiatan belajar mengajar telah berakhir.
Dalam unggahan tersebut disebutkan bahwa pihak sekolah sebelumnya telah menginformasikan jadwal kepulangan siswa lebih awal, yakni sekitar pukul 10.00 WITA. Namun, makanan baru diantar sekitar pukul 11.30 WITA ketika sebagian besar siswa sudah tidak berada di sekolah.
Keluhan serupa juga menyebutkan bahwa masukan yang telah beberapa kali disampaikan kepada pihak penyelenggara belum mendapatkan tindak lanjut yang memadai. Kondisi tersebut menuai kritik dari sejumlah penerima manfaat dan masyarakat.
Akun Facebook "Afidah Wardah Ridwan" misalnya, menilai berbagai saran dan kritik yang disampaikan selama ini hanya diterima secara formal tanpa adanya perbaikan nyata di lapangan. Menurutnya, keterlambatan distribusi menyebabkan siswa harus menunggu terlalu lama, bahkan sebagian sudah pulang sebelum makanan tiba.
Keluhan lain juga datang dari SDN Simpasai. Melalui akun Facebook "Tenks Conor Benn", diunggah foto dan komentar yang mempertanyakan kelayakan menu MBG yang diterima siswa.
Unggahan tersebut mendapat respons dari sejumlah warganet. Salah satunya akun "Meysha Rias Penganten" yang mengeluhkan kondisi lauk yang disebut sering kali tidak segar. Sementara akun "Yun Machy" mengkritik kualitas nasi yang dianggap kurang layak untuk dikonsumsi.
Berbagai komentar yang bermunculan di media sosial menunjukkan adanya harapan masyarakat agar kualitas makanan dan sistem distribusi Program Makan Bergizi Gratis dapat terus dievaluasi dan diperbaiki. Mengingat program tersebut ditujukan untuk mendukung pemenuhan gizi peserta didik, aspek kualitas pangan, keamanan makanan, serta ketepatan waktu distribusi menjadi hal yang sangat penting.
Hingga berita ini diturunkan, media masih berupaya mendapatkan konfirmasi resmi dari Kepala SPPG Bima Monta Sakuru, Fikram, SH. Pesan konfirmasi yang dikirim melalui aplikasi WhatsApp belum mendapatkan tanggapan.

0 Komentar