Sejak berdiri pada 2005, sekolah tersebut belum memiliki ruang belajar yang memadai. Berdasarkan pantauan media ini, Sabtu (24/10/2026), SD Negeri Mekar Nadi hanya memiliki satu ruangan yang digunakan untuk menampung enam rombongan belajar (rombel), mulai dari kelas I hingga kelas VI.
Ironisnya, ruangan tersebut harus dibagi menggunakan pembatas berupa terpal seadanya. Tidak hanya untuk kegiatan belajar siswa, ruangan yang sama juga dimanfaatkan sebagai ruang guru, ruang kepala sekolah, hingga ruang Unit Kesehatan Sekolah (UKS).
Kondisi ini membuat aktivitas belajar-mengajar berlangsung dalam keterbatasan. Siswa dari berbagai tingkatan kelas harus belajar berdekatan dalam satu ruangan, sehingga suasana belajar yang tenang dan kondusif sulit diwujudkan.
Keterbatasan fasilitas juga dirasakan oleh para tenaga pendidik. Tanpa ruang guru yang layak, mereka terpaksa memanfaatkan area di bawah pohon untuk menjalankan aktivitas di sela-sela kegiatan mengajar.
Kepala SD Negeri Mekar Nadi, Tasrif, S.Pd., mengungkapkan sama media ini, diruangan kerjanya, bahwa keterbatasan ruang menjadi persoalan utama yang dihadapi sekolahnya selama ini.
“Dalam kegiatan belajar-mengajar, kami hanya memiliki satu ruangan. Ruangan tersebut dibagi untuk enam rombongan belajar, sekaligus digunakan sebagai ruang guru, ruang kepala sekolah, dan UKS,” ungkap Tasrif.
Ia mengakui, kondisi tersebut turut mengganggu kenyamanan siswa dalam mengikuti pembelajaran. Karena itu, ia berharap pemerintah segera memberikan perhatian serius terhadap kondisi bangunan dan kebutuhan ruang kelas di sekolah tersebut.
“Saya berharap pemerintah segera turun tangan untuk mengatasi persoalan kondisi gedung sekolah ini,” harapnya.
Harapan serupa disampaikan para dewan guru. Mereka menginginkan tersedianya ruang kelas yang layak bagi setiap tingkatan, mulai dari kelas I hingga kelas VI, agar proses belajar-mengajar dapat berlangsung dengan lebih nyaman, efektif, dan kondusif.
Ketersediaan ruang belajar yang memadai merupakan kebutuhan mendasar untuk menunjang kualitas pendidikan. Keterbatasan fasilitas tidak seharusnya menjadi penghalang bagi siswa untuk memperoleh pengalaman belajar yang layak.
"Kami berharap Pemerintah Kabupaten Bima, Pemerintah Provinsi NTB, hingga pemerintah pusat dapat meninjau langsung kondisi SDN Mekar Nadi dan menindaklanjutinya melalui penyediaan sarana pendidikan yang dibutuhkan," harapnya.
Di tengah keterbatasan tersebut, para siswa memiliki harapan sederhana: belajar di ruang kelas yang layak dengan fasilitas pendidikan yang memadai.
Mereka ingin merasakan suasana belajar yang nyaman sebagaimana siswa di sekolah-sekolah lain. Ruang kelas yang memadai dinilai penting agar mereka dapat mengikuti pelajaran dengan lebih fokus tanpa terganggu kondisi ruangan yang sempit dan berdesakan.
Kondisi SD Negeri Mekar Nadi menjadi pengingat bahwa pemerataan akses pendidikan tidak cukup hanya dengan memastikan anak-anak dapat bersekolah.
" Ketersediaan ruang belajar yang layak, aman, dan mendukung kegiatan pembelajaran juga merupakan bagian penting dari upaya meningkatkan mutu pendidikan," jelasnya.
Kini, harapan besar tertuju kepada pemerintah dan pihak terkait agar kondisi yang dialami SD Negeri Mekar Nadi mendapat perhatian nyata. Kehadiran fasilitas pendidikan yang memadai bukan sekadar kebutuhan fisik, melainkan juga bentuk dukungan terhadap masa depan anak-anak di pelosok Kabupaten Bima.
0 Komentar