SPACE IKLAN

header ads

Pilkades Usai, Ketua PMII UIN Mataram Ajak Pemuda Jadi Pelopor Rekonsiliasi Sosial

Foto. Istimewa.

Laporan: David
Juma'at, 30 Oktober 2026.

WARTABUMIGORA.ID|MATARAM – Ketua Pengurus Komisariat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) UIN Mataram, Sudame Wire Sujane, mengajak seluruh kader PMII, organisasi kepemudaan, mahasiswa, dan elemen pemuda untuk mengambil peran aktif dalam menjaga persatuan serta memulihkan hubungan sosial masyarakat pascapenyelenggaraan Pemilihan Kepala Desa (Pilkades).

Seruan ini disampaikan menyikapi munculnya ketegangan dan konflik sosial di sejumlah desa setelah pelaksanaan Pilkades. Perbedaan pilihan politik yang semestinya menjadi bagian dari dinamika demokrasi justru berpotensi melahirkan permusuhan, perpecahan antarkelompok, bahkan merusak hubungan kekeluargaan dan persaudaraan di tengah masyarakat.

Menurut Wire, situasi tersebut harus menjadi perhatian serius bagi kalangan kader dan pemuda. Sebab, pemuda memiliki tanggung jawab sosial dan intelektual untuk memastikan bahwa demokrasi tidak berhenti pada proses pemilihan, tetapi juga mampu menjaga keberlangsungan kehidupan sosial masyarakat setelah kontestasi berakhir.

"Pilkades sudah selesai, tetapi persoalan sosial yang ditinggalkan tidak boleh kita biarkan berlarut-larut. Di sinilah kader dan pemuda harus mengambil peran. Jangan justru menjadi bagian dari konflik karena fanatisme terhadap calon tertentu. Pemuda harus mampu melampaui kepentingan politik sesaat dan kembali pada tanggung jawab sosialnya sebagai penjaga persatuan masyarakat," tegasnya.

Ia menilai bahwa kader organisasi mahasiswa dan elemen kepemudaan tidak boleh kehilangan independensi serta daya kritis hanya karena keterlibatan dalam dukungan politik praktis. Kader harus mampu membedakan antara keberpihakan politik dan tanggung jawab kemanusiaan. Mendukung seseorang dalam kontestasi politik merupakan hak, tetapi menjaga persaudaraan setelah kontestasi merupakan tanggung jawab bersama.

Lebih jauh, Wire menegaskan bahwa pemuda tidak boleh hanya hadir ketika momentum politik berlangsung, tetapi menghilang ketika masyarakat membutuhkan ruang dialog dan rekonsiliasi. Justru setelah Pilkades selesai, kehadiran pemuda sangat dibutuhkan untuk membangun komunikasi, meredam ketegangan, meluruskan informasi yang keliru, serta mempertemukan kembali masyarakat yang terpecah akibat perbedaan pilihan.

"Jangan sampai energi dan idealisme pemuda habis hanya untuk memenangkan calon tertentu. Kita harus memiliki agenda yang lebih besar daripada sekadar kemenangan politik, yaitu memastikan masyarakat tetap hidup rukun, pembangunan desa berjalan, dan demokrasi memberikan manfaat bagi seluruh warga," lanjut Wire.

Sebagai bagian dari gerakan mahasiswa, ia juga mengingatkan bahwa nilai-nilai pergerakan tidak boleh berhenti sebagai slogan organisasi. Semangat intelektualitas, keadilan, dan pengabdian kepada masyarakat harus diwujudkan melalui tindakan nyata. Kader PMII dan pemuda harus menjadi kelompok yang mampu menghadirkan pendidikan politik, membangun kesadaran demokrasi, serta menjadi jembatan komunikasi di tengah masyarakat.

Ia mengajak seluruh organisasi kepemudaan, komunitas mahasiswa, dan elemen masyarakat sipil untuk tidak terjebak dalam polarisasi politik pascapemilihan. Perbedaan dukungan tidak boleh menjadi alasan untuk saling mengucilkan, menyebarkan kebencian, maupun mempertahankan permusuhan.

"Pemuda harus berani mengambil jarak dari fanatisme politik yang merusak akal sehat. Kita tidak sedang berbicara tentang siapa calon yang menang atau kalah, tetapi tentang bagaimana masyarakat tetap memiliki masa depan bersama. Jangan sampai kepentingan politik seseorang mengorbankan persaudaraan satu desa," ungkapnya.

Di akhir pernyataannya, Wire menyerukan kepada seluruh kader PMII dan elemen pemuda agar menjadikan momentum pasca-Pilkades sebagai ruang pembuktian atas peran dan tanggung jawab sosial kaum muda. Pemuda harus tampil sebagai pelopor rekonsiliasi, bukan pelanjut permusuhan; menjadi penyambung persaudaraan, bukan penyebar kebencian.

"Kader dan pemuda harus menjadi bagian dari solusi, bukan bagian dari persoalan. Pilkades boleh selesai, kepentingan politik boleh berganti, tetapi tanggung jawab kita terhadap masyarakat tidak pernah selesai. Jangan biarkan perbedaan pilihan membunuh persaudaraan. Sebab, masa depan desa tidak hanya ditentukan oleh siapa yang menjadi kepala desa, tetapi juga oleh bagaimana generasi mudanya menjaga persatuan." tutupnya.

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar