Foto. Istimewa.
WARTABUMIGORA.ID|LOMBOK BARAT– Semilir angin pantai Senggigi berpadu dengan aroma khas ketupat dan riuh tawa masyarakat, menghadirkan suasana hangat dalam perayaan Lebaran Topat 2026. Tradisi sakral masyarakat Sasak ini kembali digelar meriah di kawasan Makam Batulayar dan Amphitheater Senggigi, menjadi perpaduan indah antara nilai spiritual, budaya, dan pariwisata.
Sejak pagi, ribuan warga memadati lokasi dengan mengenakan busana terbaik. Mereka membawa dulang berisi ketupat dan aneka hidangan khas, menciptakan pemandangan budaya yang kaya warna. Tak hanya masyarakat lokal, wisatawan domestik hingga mancanegara juga turut menikmati keunikan tradisi yang hanya ada di Lombok ini.
Perayaan semakin semarak dengan kehadiran Gubernur Nusa Tenggara Barat, Lalu Muhamad Iqbal, bersama Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini dan Wakil Bupati Nurul Adha. Dalam sambutannya, Gubernur mengapresiasi komitmen masyarakat dan pemerintah daerah dalam menjaga dan melestarikan tradisi Lebaran Topat.
Menurutnya, Lebaran Topat bukan sekadar penutup rangkaian Idulfitri, tetapi memiliki makna mendalam yang diwariskan secara turun-temurun. Filosofi ketupat yang terdiri dari empat makna Lebaran, Luberan, Leburan, dan Labur mencerminkan kesempurnaan ibadah, keikhlasan berbagi, saling memaafkan, serta kembalinya manusia pada kesucian.
“Ini bukan hanya tradisi, tetapi refleksi spiritual yang menguatkan hubungan manusia dengan Tuhan dan sesama,” ujarnya.
Sementara itu, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini menegaskan bahwa Lebaran Topat merupakan warisan leluhur yang terus hidup dalam keseharian masyarakat Sasak. Tradisi yang diperingati setiap 8 Syawal ini diisi dengan ziarah makam ulama, doa bersama, serta momen kebersamaan keluarga di kawasan pantai.
Tahun ini, Lebaran Topat tampil lebih hidup dengan berbagai atraksi budaya, parade kreatif, hingga keterlibatan pelaku pariwisata seperti hotel dan resort di kawasan Senggigi. Pertunjukan seni, iringan musik tradisional, serta arak-arakan ketupat menjadi daya tarik yang memikat pengunjung.
Lebaran Topat kembali membuktikan dirinya bukan sekadar tradisi, tetapi juga sebagai pesta budaya yang mempererat kebersamaan, memperkuat identitas lokal, sekaligus menjadi magnet pariwisata unggulan Nusa Tenggara Barat.

0 Komentar