WARTABUMIGORA.ID|MATARAM – Keluarga Besar Mahasiswa Praya Timur (KBM PRATIM) menyuarakan keprihatinan terhadap berbagai fenomena yang dinilai mulai menggeser nilai-nilai luhur dalam prosesi adat Nyongkolan, salah satu warisan budaya penting masyarakat Sasak.
Organisasi mahasiswa tersebut menyerukan seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga marwah dan keaslian tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Melalui pernyataan sikap resminya, KBM PRATIM menegaskan bahwa Nyongkolan bukan sekadar arak-arakan pengantin, melainkan simbol kehormatan, identitas, dan peradaban masyarakat Sasak yang sarat makna filosofis.
KBM PRATIM menyoroti sejumlah praktik yang dianggap berpotensi mencederai nilai-nilai adat, termasuk munculnya penggunaan busana kebaya oleh laki-laki sebagai pendamping pengantin dalam prosesi Nyongkolan.
Menurut mereka, praktik tersebut tidak sesuai dengan pakem budaya Sasak yang membedakan atribut adat laki-laki dan perempuan berdasarkan fungsi serta peran masing-masing.
Selain itu, organisasi tersebut juga menilai perkembangan media sosial telah mendorong sebagian pihak melakukan berbagai modifikasi dan atraksi dalam prosesi adat demi mengejar popularitas maupun konten viral.
Kondisi ini dikhawatirkan dapat mengurangi nilai filosofis dan kesakralan Nyongkolan sebagai bagian dari identitas budaya Sasak.
Dalam pernyataannya, KBM PRATIM menyampaikan empat sikap utama, yakni menolak segala bentuk penyimpangan dalam prosesi Nyongkolan yang bertentangan dengan nilai dan tata busana adat Sasak, mengimbau generasi muda agar bijak menggunakan media sosial, mendesak pemerintah daerah bersama lembaga adat menyusun pedoman baku pelaksanaan Nyongkolan, serta berkomitmen menjadi pelopor gerakan “Nyongkolan Beradab” melalui edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat.
Dewan Pembina Organisasi KBM PRATIM, M. Rizqi Adiarta, menegaskan bahwa modernisasi tidak boleh menghilangkan jati diri budaya masyarakat Sasak.
“Era digital tidak boleh menjadi alasan kita kehilangan identitas. Jangan sampai demi konten dan sensasi, simbol-simbol budaya yang diwariskan leluhur justru dikorbankan. Menjaga Nyongkolan berarti menjaga marwah dan kehormatan Sasak. Kita boleh maju mengikuti perkembangan zaman, tetapi akar budaya tidak boleh tercerabut,” tegasnya.
KBM PRATIM berharap tokoh adat, pemerintah, akademisi, pemuda, dan masyarakat umum dapat bersinergi menjaga kemurnian budaya Sasak agar tetap lestari di tengah arus modernisasi dan digitalisasi.
Menurut mereka, pelestarian budaya bukan berarti menolak perkembangan zaman, melainkan memastikan kemajuan tidak menghilangkan identitas yang menjadi kebanggaan masyarakat Sasak.
"Modern boleh, maju boleh, tetapi akar budaya jangan sampai putus."


0 Komentar