WARTABUMIGORA.ID|LOMBOK BARAT- Krisis air bersih yang menyebabkan aliran air mati total selama kurang lebih empat hari di sejumlah lingkungan, khususnya kawasan BTN Reyan Baru dan sekitarnya di wilayah Kelurahan Gerung Selatan, Kabupaten Lombok Barat, menuai sorotan masyarakat. Menanggapi kondisi tersebut, Kepala Kelurahan Gerung Selatan, Akhwan Mashudi, menegaskan bahwa air merupakan kebutuhan paling mendasar sehingga setiap gangguan pelayanan harus diantisipasi dengan prosedur yang jelas.
"Bagaimana kita ketahui bahwa air ini adalah sumber kehidupan. Ketika air tidak ada, tentu masyarakat akan panik. Air dibutuhkan untuk minum, memasak, mandi, mencuci, hingga kebutuhan rumah tangga lainnya. Karena itu, kejadian ini harus menjadi pelajaran bagi semua pihak," ujar Akhwan Mashudi, Kamis, 2 Juli 2026.
Ia berharap pihak PDAM segera menyusun Standar Operasional Prosedur (SOP) yang jelas setiap kali akan melakukan pekerjaan perbaikan jaringan distribusi air.
"Yang perlu kita ambil hikmahnya dari kejadian ini adalah semoga ke depan PDAM memiliki SOP yang jelas ketika melakukan perbaikan saluran air. Salah satu yang paling penting adalah adanya pemberitahuan kepada pelanggan dan masyarakat sebelum gangguan aliran air Mati atau tidak ada air. Informasi bisa disampaikan melalui pemerintah daerah, pemerintah kelurahan, grup WhatsApp, maupun media lainnya sehingga kami di tingkat kelurahan dapat melakukan mitigasi lebih awal," katanya.
Menurutnya, apabila informasi diterima sejak awal, pemerintah kelurahan dapat segera berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk menghadirkan solusi sementara bagi masyarakat.
"Kalau ada pemberitahuan lebih awal, kami bisa segera bersurat dan berkoordinasi dengan instansi terkait agar bantuan mobil tangki air dapat segera disiapkan. Dengan begitu pelayanan kepada masyarakat tetap bisa berjalan selama proses perbaikan berlangsung," jelasnya.
Akhwan mengungkapkan bahwa warga yang paling terdampak berada di kawasan perumahan, terutama BTN Reyan Baru, yang mayoritas bergantung pada pasokan air dari jaringan PDAM.
"Sebagian besar warga yang terdampak berada di kawasan perumahan yang sumber airnya sepenuhnya mengandalkan layanan PDAM. Memang di beberapa kawasan lama masih ada warga yang memiliki sumur bor, tetapi warga yang sempat viral kemarin umumnya belum memiliki sumber air alternatif," ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa kondisi tersebut juga menjadi bahan evaluasi bagi Pemerintah Kelurahan Gerung Selatan.
"Ke depan kami akan mengajak seluruh pengurus masjid dan musala di wilayah Kelurahan Gerung Selatan untuk bersama-sama membangun sumur bor. Harapannya, apabila kejadian serupa kembali terjadi, masyarakat masih memiliki akses terhadap air bersih melalui fasilitas umum yang tersedia," ujarnya.
Akhwan juga menyoroti minimnya komunikasi dari pihak penyedia layanan selama proses gangguan berlangsung.
"Selama ini kami tidak menerima koordinasi yang maksimal. Bahkan melalui media massa pun kami tidak mengetahui kapan perbaikan dimulai, berapa lama pengerjaannya, dan kapan distribusi air akan kembali normal. Tiba-tiba masyarakat sudah mengeluhkan kekurangan air," katanya.
Ia mengungkapkan bahwa Kantor Kelurahan Gerung Selatan juga turut terdampak karena menggunakan layanan air yang sama. Namun, keberadaan tandon air cukup membantu menjaga pelayanan kepada masyarakat.
"Kantor kelurahan juga menggunakan layanan PDAM sehingga ikut terdampak. Alhamdulillah kami memiliki tandon air. Saat air mengalir pada malam hari, kami bisa menampungnya sehingga pelayanan kepada masyarakat tetap dapat berjalan," jelasnya.
Berdasarkan hasil pemantauan di lapangan, hingga memasuki hari keempat, distribusi air memang mulai kembali mengalir di beberapa wilayah, namun belum sepenuhnya normal.
"Dari hasil pengecekan kami, di sebagian wilayah BTN Reyan Baru air sudah mulai mengalir dengan lancar. Namun di kawasan yang berada di bagian atas, air masih belum mengalir secara normal. Umumnya air baru tersedia pada dini hari atau pagi hari, sehingga kondisi ini belum bisa dikatakan pulih sepenuhnya," ungkapnya.
Akhwan berharap PDAM meningkatkan kualitas pelayanan melalui komunikasi yang lebih terbuka kepada masyarakat, sekaligus mengajak warga memperkuat solidaritas menghadapi kondisi darurat.
"Kami berharap PDAM memiliki SOP yang jelas, termasuk mekanisme pemberitahuan kepada pelanggan sebelum dilakukan perbaikan jaringan. Dengan demikian pemerintah kelurahan dapat melakukan langkah-langkah mitigasi dan koordinasi lebih cepat."
"Kepada masyarakat, saya mengajak untuk tetap menjaga kebersamaan dan saling membantu. Apabila ada tetangga yang memiliki sumur bor, mari saling berbagi. Kita tentu berharap kejadian seperti ini tidak terulang lagi. Meskipun saat ini air mulai mengalir, kondisinya masih belum sepenuhnya normal sehingga kita semua perlu tetap bersabar sambil menunggu distribusi kembali pulih sepenuhnya," tutup Akhwan Mashudi.

0 Komentar