SPACE IKLAN

header ads

Sejak 1982 SDN Inpres Pusu Bima Masih Kekurangan Ruang Kelas,

Foto. Istimewa.

Laporan: Ipul
Selasa, 3 November 2026.

WARTABUMIGORA.ID | BIMA – Kondisi memprihatinkan masih menyelimuti dunia pendidikan di wilayah pelosok Kabupaten Bima. SDN Inpres Pusu, yang berada di Desa Pusu, Kecamatan Langgudu, hingga kini masih kekurangan dua ruang kelas untuk menunjang kegiatan belajar mengajar.

Sejak berdiri pada 1 Januari 1982, sekolah yang berada di wilayah terpencil bagian selatan Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), tersebut belum memiliki fasilitas ruang belajar yang memadai bagi seluruh peserta didiknya.

Kepala SDN Inpres Pusu, Abdurrahman, S.Pd., mengungkapkan bahwa dari enam rombongan belajar (rombel) yang tersedia, sekolah belum memiliki ruang kelas khusus bagi siswa kelas I dan kelas II.

Akibat keterbatasan tersebut, pihak sekolah terpaksa memanfaatkan ruangan darurat dan mengalihfungsikan sejumlah fasilitas sekolah agar kegiatan pembelajaran tetap berlangsung.

"Kondisi ini sudah cukup lama kami hadapi. Siswa kelas I terpaksa belajar di ruangan darurat yang hanya dibatasi sekat berbahan seng. Akibatnya, suara dari ruang sebelah mudah terdengar dan mengganggu konsentrasi belajar. Belum lagi kondisi ruangan yang panas dan kurang nyaman," ungkap Abdurrahman saat ditemui media ini di ruang kerjanya, Selasa (3/11/2026).

Sementara itu, siswa kelas II harus menggunakan ruang kantor guru sebagai tempat belajar. Padahal, ruangan tersebut seharusnya digunakan untuk kegiatan administrasi, persiapan pembelajaran, serta diskusi para tenaga pendidik.

Dampaknya, ruang perpustakaan sekolah pun terpaksa dialihfungsikan menjadi kantor guru. Kondisi ini menyebabkan sejumlah fasilitas pendidikan tidak dapat dimanfaatkan sesuai fungsi sebenarnya.

Atas kondisi tersebut, keluarga besar SDN Inpres Pusu menyampaikan permohonan sekaligus harapan kepada pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi NTB, dan Pemerintah Kabupaten Bima agar memberikan perhatian serius terhadap kebutuhan fasilitas pendidikan di sekolah tersebut.

Pihak sekolah secara khusus meminta Bupati Bima melalui Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga (Dikbudpora) Kabupaten Bima agar memprioritaskan serta mengusulkan pembangunan dua ruang kelas baru untuk siswa kelas I dan kelas II.

Permohonan dukungan juga ditujukan kepada Gubernur NTB melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTB, agar turut mengawal serta memberikan rekomendasi terhadap usulan pembangunan tersebut.

Tak hanya itu, pemerintah pusat melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah serta kementerian terkait diharapkan dapat memberikan bantuan pembangunan sarana pendidikan, khususnya bagi sekolah-sekolah di wilayah terpencil dan sulit dijangkau.

Menurut pihak sekolah, persoalan kekurangan ruang kelas bukan sekadar masalah bangunan fisik, melainkan menyangkut kenyamanan, keamanan, dan kualitas proses pembelajaran peserta didik.

Anak-anak di Desa Pusu memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan berkualitas dengan fasilitas yang layak. Kondisi geografis dan keterbatasan sarana tidak seharusnya menjadi penghalang bagi mereka dalam meraih cita-cita.

"Kami tidak meminta sesuatu yang berlebihan. Kami hanya mengharapkan dua ruang kelas yang layak agar anak-anak kami dapat belajar dengan aman, nyaman, dan penuh semangat sebagaimana anak-anak Indonesia lainnya," demikian harapan keluarga besar SDN Inpres Pusu.

Pihak sekolah berharap pembangunan pendidikan tidak hanya terpusat di wilayah perkotaan, tetapi juga menyentuh sekolah-sekolah di pelosok Kabupaten Bima yang masih membutuhkan perhatian pemerintah.

Sebab, membangun ruang kelas bukan sekadar mendirikan gedung, melainkan menghadirkan kesempatan, menumbuhkan harapan, dan mempersiapkan masa depan generasi bangsa.

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar