WARTABUMIGORA.ID | MATARAM – Tak seorang pun menyangka, sosok pendiam yang selama ini dikenal ramah dan rajin beribadah itu kini menjadi pusat duka dan keterkejutan warga Monjok Timur, Kota Mataram, hingga Sekotong, Lombok Barat. Bara Prima Rio, pria yang sehari-hari terlihat biasa saja di lingkungan tempat tinggalnya, diduga tega menghabisi nyawa ibu kandungnya sendiri, sebelum membawa jasad korban ke Sekotong dan membakarnya di Dusun Batu Leong, Sekotong Barat.
Peristiwa tragis yang berawal di Jalan Perkutut, Monjok Baru, Kelurahan Monjok Timur, itu meninggalkan luka mendalam bagi warga sekitar. Mereka masih sulit mempercayai kenyataan pahit yang menimpa keluarga yang selama ini tampak harmonis dan jauh dari persoalan.
“Dia itu anak baik, pendiam, tidak pernah bikin masalah. Kalau waktu salat tiba, hampir selalu kami lihat dia berjamaah di masjid,” tutur Didik, tetangga pelaku, dengan nada tak percaya, Selasa (27/1/2026).
Didik mengaku baru mengetahui kabar penangkapan Rio ketika warga berbondong-bondong mendatangi rumah pelaku pada malam kejadian. Suasana yang biasanya tenang mendadak berubah mencekam.
“Saya benar-benar kaget. Tidak ada tanda-tanda apa pun sebelumnya. Tiba-tiba warga ramai, polisi datang. Suasananya sangat berbeda,” ujarnya.
Menurut Didik, Rio dikenal sebagai pribadi tertutup dan jarang berbagi cerita, termasuk mengenai kehidupan rumah tangganya. Selama ini, tak pernah terdengar adanya pertengkaran besar ataupun konflik serius antara Rio dan sang ibu.
Yang lebih menyayat hati, sosok korban, Yeni Rudi Astuti, yang akrab disapa Tuti juga dikenal sebagai pribadi hangat dan bersahaja. Ia kerap hadir dalam berbagai kegiatan warga, menyapa tetangga dengan senyum, serta aktif dalam aktivitas sosial di lingkungan tempat tinggalnya.
“Ibunya juga orang baik. Sering ikut arisan dan kegiatan warga. Kami melihat mereka seperti keluarga normal saja,” kata Didik lirih.
Kini, rumah yang dahulu dipenuhi sapaan ramah dan aktivitas keseharian warga berubah sunyi. Tragedi ini tak hanya merenggut nyawa seorang ibu, tetapi juga meninggalkan trauma mendalam bagi lingkungan sekitar sebuah pengingat pahit bahwa luka batin kerap tersembunyi di balik wajah yang tampak baik-baik saja.

0 Komentar