WARTABUMIGORA.ID|LOMBOK TENGAH – Diskusi evaluasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digelar di Dapur MBG CV Dapur Nusantara Selakan bersama SPPG Gayani Kekah Muda Selakan berubah menjadi forum panas dan penuh ketegangan. Pemilik dapur dilaporkan meluapkan emosi setelah salah satu peserta mempertanyakan transparansi supplier bahan baku yang digunakan dapur tersebut.
Pertanyaan itu muncul setelah peserta menyinggung petunjuk teknis dari Badan Gizi Nasional (BGN) yang menegaskan bahwa pihak mitra tidak boleh merangkap peran sebagai supplier. Namun, pemilik dapur justru menyebut aturan tersebut tidak relevan dan menolak isu supplier dibahas dalam forum.
Situasi diskusi langsung berubah tegang. Beberapa peserta menyebut pemilik dapur berbicara dengan nada tinggi dan terkesan menekan peserta yang mengajukan pertanyaan.
“Pemilik dapur marah, seolah pertanyaan itu dianggap mengganggu. Padahal ini menyangkut transparansi,” kata salah satu peserta yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Peserta lain menilai diskusi tersebut tidak berjalan profesional dan terkesan hanya formalitas tanpa arah yang jelas.
“Diskusi ini terkesan tidak serius. Tidak ada narasumber resmi, tidak ada notulen rapat. Semua pertanyaan dijawab ketua SPPG dan pemilik dapur. Seolah-olah diskusi ini sudah diskenariokan,” ujar peserta tersebut.
Kecurigaan peserta semakin kuat setelah muncul informasi bahwa supplier dapur tersebut diduga merupakan istri pemilik dapur sendiri. Namun dalam diskusi, pihak supplier tidak diberikan kesempatan untuk menjelaskan atau mengklarifikasi, sehingga memunculkan dugaan adanya praktik yang sengaja ditutup-tutupi.
Tidak hanya soal supplier, forum tersebut juga memunculkan berbagai keluhan terkait kualitas MBG yang dinilai jauh dari standar. Sejumlah peserta menyebut porsi makanan tidak sesuai SOP, menu yang disajikan monoton, hingga kualitas bahan makanan yang memprihatinkan.
Keluhan peserta meliputi:
- Porsi MBG disebut jauh dari SOP
- Menu monoton dan tidak menarik bagi anak
- Buah ditemukan busuk dan tidak layak konsumsi
- Kualitas nasi buruk
- Telur diberikan terus menerus tanpa variasi
- Keluhan soal jomplinan sering muncul namun tidak ditanggapi
Para peserta berharap pihak terkait, termasuk BGN dan instansi pengawas, turun tangan melakukan evaluasi menyeluruh agar program MBG tidak berubah menjadi kegiatan seremonial yang mengabaikan kualitas dan transparansi.
Hingga berita ini ditulis, pihak pengelola dapur maupun SPPG belum memberikan klarifikasi resmi terkait tudingan tersebut.

0 Komentar