SPACE IKLAN

header ads

NTB Tak Bisa Lagi Jalan di Tempat, Transformasi Desa Harus Dipacu Tanpa Kompromi

Foto. Istimewa.

Laporan: ll
Sabtu, 21 Februari 2026

WARTABUMIGORA.ID | MATARAM – Nusa Tenggara Barat (NTB) sedang berada di titik krusial. Hampir 80 persen desa masih bergantung pada sektor pertanian. Dari 1.180 desa/kelurahan, sebanyak 943 desa hidup dari sektor agraris. Ini bukan sekadar data, ini alarm keras: jika pertanian goyah, ekonomi desa ikut limbung.

Memang, geliat Industri Mikro dan Kecil (IMK) mulai tumbuh. Sebanyak 1.155 desa sudah memiliki IMK dan 195 desa menjadi sentra industri. Kabupaten Lombok Timur bahkan mencatat konsentrasi sentra industri tertinggi. Namun pertanyaannya: apakah pertumbuhan ini cukup cepat untuk mengejar ketertinggalan?

Jangan terlena dengan angka. Kemiskinan di NTB per Maret 2025 masih di angka 11,78 persen atau 654,57 ribu jiwa. Garis kemiskinan naik menjadi Rp556.846 per kapita per bulan. Artinya, biaya hidup makin mahal. Sebanyak 75,86 persen garis kemiskinan ditentukan kebutuhan makanan. Beras dan cabai bukan sekadar komoditas — keduanya bisa menentukan stabil atau tidaknya ribuan rumah tangga.

Kabar baik memang datang dari sektor pertanian. Nilai Tukar Petani (NTP) Desember 2025 tembus 134,14. Hortikultura bahkan melonjak hingga 255,85. Semua subsektor surplus. Tapi surplus di atas kertas tidak otomatis berarti kesejahteraan merata di lapangan. Tanpa hilirisasi serius, petani tetap rentan pada permainan harga dan tengkulak.

Internet sudah menjangkau seluruh desa, 1.139 desa menikmati 4G/5G. Namun koneksi tanpa kapasitas hanya akan jadi angka statistik. Digitalisasi UMKM harus dibarengi pelatihan, akses modal, dan pendampingan nyata. Kalau tidak, desa hanya jadi pasar, bukan pelaku utama.

NTB tidak punya banyak waktu. Ketergantungan pada bahan mentah harus dipatahkan. Produk hortikultura harus masuk rantai pasok modern. Cold storage, pengemasan, hingga pemasaran digital bukan lagi pilihan, tapi keharusan.

Transformasi desa tidak boleh setengah hati. Jika pemerintah serius ingin menekan kemiskinan, stabilisasi harga pangan dan penguatan agroindustri desa wajib jadi prioritas utama.

NTB sedang bergerak, tapi gerak itu harus dipercepat. Karena di balik statistik, ada ribuan keluarga yang hidupnya ditentukan oleh harga beras dan cabai hari ini.

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar