WARTABUMIGORA.ID|MATARAM -Senyum cerah terpancar dari wajah Malini Narigi, siswi kelas 1 SMP Tunas Daud Mataram. Anak asal Papua Pegunungan yang kini tinggal di Panti Asuhan Tunas PAUD Kristen NTB itu baru saja menerima bantuan sepasang sepatu sekolah merek North Star dan Bata.
Bantuan tersebut diserahkan sebagai bentuk perhatian Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi NTB, Dr. H. Zamroni Aziz, dalam kegiatan “Doa Bagi Bangsa dan Memasuki Awal Tahun Ajaran Baru” pada Jumat, 24 Juli 2026. Awal bermula ketika Malini sebagai salah satu siswa yang terpilih untuk bisa naik diatas panggung dan berkenalan langsung dengan Malini dan memperkenalkan dirinya sebagai salah satu siswa yang berasal dari Papua Pegunungan dan bercita - cita sebagai pemain bola dan di doakan oleh DR. H. Zamroni Aziz dan berjanji akan memberikan sepatu baru.
Dan janjinya terpenuhi dan rasa gembira dari seorang Malini nampak dari senyumannya saat menerima hadiah tersebut. Melalui pesan singkatnya, Malini menyampaikan rasa terima kasih.
“Selamat pagi Pak Kakanwil, izin melaporkan bahwa bantuan sepatu sekolah dari Bapak telah diterima. Terima kasih banyak atas pembinaan dan perhatiannya.
"Doa kami kiranya Bapak Kakanwil senantiasa sehat dan sukses selalu”
Bagi Malini, sepatu baru itu bukan sekadar alas kaki. Ia adalah simbol kasih, perhatian, dan harapan agar anak-anak dari daerah 3T tetap bisa melangkah ke sekolah dengan percaya diri.
Dr. H. Zamroni Aziz dalam kegiatan tersebut menekankan bahwa keberagaman adalah kekuatan bangsa. Perhatian kepada 700 siswa/i Kristen dan Katolik di Mataram menjadi bukti nyata bahwa Kementerian Agama hadir untuk semua umat, tanpa membedakan suku, asal, maupun latar belakang ekonomi.
Kepala Panti Asuhan Tunas PAUD Kristen NTB menyampaikan apresiasi. “Anak-anak kami, termasuk Malini dari Papua Pegunungan, merasa sangat dikasihi dan diperhatikan. Ini menguatkan semangat mereka untuk belajar dan meraih cita-cita,” ujarnya.
Kisah Malini menjadi pengingat indah: di NTB, perbedaan dirajut dalam kasih. Dari Papua ke Mataram, dari panti asuhan ke ruang kelas, doa dan kepedulian menyatukan kita sebagai satu Indonesia.

0 Komentar