SPACE IKLAN

header ads

Ditolak masuk ke UIN Walisongo, Terpampang Spanduk "Anak Haram Konstitusi" Untuk Gibran

Foto. Ditolak masuk ke UIN Walisongo, Terpampang Spanduk "Anak Haram Konstitusi" Untuk Gibran.

Kamis, 30 Mei 2024.
Oleh, Mell.
Editor, Baiq Nining.

𝓦𝓪𝓻𝓽𝓪𝗕𝗨𝗠𝗜𝗚𝗢𝗥𝗔.𝗜𝗗, 𝗦𝗘𝗠𝗔𝗥𝗔𝗡𝗚 - Mahasiswa Universitas Islam Negeri atau UIN Walisongo Semarang, Jawa Tengah menolak kedatangan wakil presiden terpilih Gibran Rakabuming Raka (27/5/ 2024).

Penolakan tersebut disampaikan melalui spanduk yang dipasang di salah satu gedung kampus tersebut.

Spanduk-spanduk penolakan itu bertulisan, Anak Haram Konstitusi Dilarang Masuk, Bunuh Politik Dinasti, dan Gibran Produk Dinasti.

Ketiganya dipasang di lantai paling atas gedung menjuntai ke bawah.

Berdasarkan pamflet yang beredar, Gibran rencananya akan menjadi salah satu pembicara acara bertema Peran Pemuda Menjaga Kondusifitas Usai Pemilu dalam Sebuah Gerakan Menuju Indonesia 2045. Namun, putra Presiden Joko Widodo tersebut tak hadir.

Alasan penolakan mahasiswa adalah Gibran dinilai wakil presiden terpilih yang cacat konstitusi sejak awal pendaftarannya.

"Sudah terjadi sangat lama terkait penolakan Gibran. Bahkan sebelum dicalonkan sebagai wakil presiden pada tahun 2023," kata perwakilan mahasiswa, Mohammad Bagas Saputra.

Gibran maju sebagai calon wakil presiden mendampingi Prabowo Subianto setelah Mahkamah Konstitusi yang dipimpin pamannya mengabulkan gugatan nomor 90. Gugatan tersebut memberikan jalan Gibran yang belum berusia 40 tahun yang semula tak memenuhi syarat.

Meskipun tak jadi hadir, mahasiswa menyayangkan adanya pamflet acara yang beredar mendatangkan Gibran sebagai salah satu pembicara. "Salah satu upaya yang kami bangun untuk membentuk kritisisme pada mahasiswa sudah dicederai terkait munculnya pamflet Gibran yang akan datang di UIN," ujar Bagas.

Kepala Bagian (Kabag) Tata Usaha (TU) Fakultas Syariah dan Hukum, Abdul Hakim mengaku tidak mengetahui kapan spanduk tersebut dipasang.

"Saya kurang tahu persis karena empat hari yang lalu itu libur," jelas dia saat konfirmasi di lokasi, Senin (27/5/2024).

Dia menjelaskan, keberadaan spanduk tersebut baru dia ketahui setelah mendapatkan telpon dari petugas keamanan.

"Tadi pagi saya ditelepon oleh satpam. Kalau saya tak apa-apa, tapi nanti pasti ada resistensi perlawanan dari pimpinan. Kita hidup tak sendirian," ujar dia.

Menurutnya, protes yang dilakukan oleh mahasiswa merupakan hal yang biasa selama tidak melakukan perusakan fasilitas kampus.

"Ya itu biasa. Selama itu tidak merusak, saya pikir itu jadi pembelajaran kita bersamaan," paparnya.

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar