Opini; Penulis Ipul
Pendidikan bukan hanya tentang membuat anak pintar secara akademik. Pendidikan juga tentang membentuk karakter, akhlak, etika, kedisiplinan, dan rasa hormat kepada orang lain. Di sinilah peran guru menjadi sangat penting.
Namun, dalam kenyataan hari ini, guru sering berada dalam posisi yang serba salah. Ketika guru membimbing siswa dengan tegas, sebagian orang tua justru menganggapnya sebagai bentuk kekerasan terhadap anak. Bahkan teguran yang disampaikan secara sopan dan bertujuan mendidik terkadang langsung dipersoalkan.
Padahal, tidak semua teguran adalah kekerasan. Tidak semua ketegasan merupakan tindakan yang merugikan anak. Ada kalanya guru menegur karena ingin mengarahkan siswa agar memahami kesalahan, memperbaiki sikap, dan menjadi pribadi yang lebih baik.
Guru tentu tidak boleh melakukan kekerasan fisik, penghinaan, intimidasi, atau tindakan yang merendahkan martabat peserta didik. Namun, guru juga membutuhkan ruang untuk menjalankan tugasnya sebagai pendidik. Jika setiap bentuk pembinaan dianggap sebagai kekerasan, bagaimana guru dapat membentuk karakter anak?
Lebih memprihatinkan lagi ketika seorang siswa mulai berani melawan atau tidak menghormati guru karena merasa akan selalu mendapatkan perlindungan dari orang tua. Ketika terjadi persoalan, orang tua langsung datang membela anak tanpa terlebih dahulu mendengarkan penjelasan guru dan memahami apa yang sebenarnya terjadi.
Sikap seperti ini justru dapat menjadi bumerang bagi perkembangan anak. Anak membutuhkan orang tua yang melindungi, tetapi juga membutuhkan orang tua yang berani mengatakan bahwa anaknya salah ketika memang melakukan kesalahan.
Jangan sampai rasa sayang kepada anak membuat kita kehilangan keberanian untuk mendidik.
Guru dan orang tua seharusnya berada dalam satu barisan. Ketika guru memberikan pembinaan dengan cara yang wajar, sopan, dan mendidik, orang tua semestinya tidak langsung menganggapnya sebagai kekerasan. Sebaliknya, jika memang terdapat tindakan yang melampaui batas, tentu harus diselesaikan melalui mekanisme yang tepat dan berdasarkan fakta.
Sekolah bukan tempat untuk sekadar mengejar nilai rapor. Sekolah adalah tempat anak belajar menjadi manusia. Anak perlu belajar menghormati guru, menghargai teman, menaati aturan, menerima nasihat, bertanggung jawab atas kesalahan, dan memahami bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi.
Karena itu, perlindungan anak harus ditempatkan secara proporsional. Lindungi anak dari kekerasan, tetapi jangan lindungi anak dari nasihat, teguran, disiplin, dan proses belajar menjadi pribadi yang bertanggung jawab.
Jika guru tidak lagi berani menegur, orang tua selalu membenarkan anak, dan siswa merasa bebas melawan aturan, maka yang perlahan hilang bukan hanya kewibawaan guru, tetapi juga nilai-nilai pendidikan itu sendiri.
Kita tentu ingin melahirkan generasi yang cerdas secara akademik. Tetapi lebih dari itu, kita membutuhkan generasi yang memiliki akhlak, etika, sopan santun, disiplin, dan rasa hormat.
Sebab, kecerdasan tanpa akhlak dapat kehilangan arah. Dan pendidikan tanpa karakter hanya akan melahirkan manusia yang pandai, tetapi belum tentu mampu menghargai sesama.
Mari lindungi anak, tetapi jangan matikan proses mendidiknya. Mari hormati guru, tetapi juga pastikan setiap ketegasan dilakukan secara profesional, manusiawi, dan tanpa kekerasan. Karena membentuk anak yang cerdas dan berakhlak adalah tanggung jawab bersama antara guru, orang tua, dan masyarakat.

0 Komentar