SPACE IKLAN

header ads

Warga Teluk Waru Keluhkan Debu Jagung PT Juro Agro Nusantara

Foto. Istimewa.

Laporan : ll
Juma'at, 14 Agustus 2026.

WARTABUMIGORA.ID|LOMBOK BARAT- Aktivitas pengelolaan jagung kering yang dilakukan PT Juro Agro Nusantara di Dusun Teluk Waru, Desa Labuan Tereng, Kecamatan Lembar, Kabupaten Lombok Barat menuai keluhan dari warga sekitar. Perusahaan yang disebut telah beroperasi lebih dari satu tahun itu diduga menimbulkan pencemaran lingkungan berupa debu dan limbah jagung kering yang terbawa angin hingga masuk ke rumah-rumah penduduk.

Keluhan masyarakat semakin menguat dalam beberapa bulan terakhir, terutama saat angin kencang melanda kawasan pesisir Teluk Waru. Warga mengaku debu jagung beterbangan hampir setiap hari dan mengotori halaman, atap, hingga bagian dalam rumah.

Mereka menilai perusahaan tidak memiliki sistem pengamanan yang memadai untuk mencegah penyebaran limbah ke lingkungan sekitar.

Salah seorang perwakilan warga Dusun Teluk Waru, H. Fathul Ajiz, mengatakan kondisi tersebut sudah berlangsung cukup lama dan belum mendapatkan penanganan yang memuaskan. Menurutnya, masyarakat sudah beberapa kali menyampaikan keluhan, namun hingga kini belum ada perubahan signifikan.

“Kalau angin kencang, debu jagung beterbangan ke mana-mana. Masuk ke rumah, menempel di perabot, halaman, bahkan pakaian yang dijemur.

Kami sangat terganggu. Yang membuat kami kecewa, selama perusahaan beroperasi tidak ada langkah pengamanan yang benar-benar efektif untuk mencegah limbah itu menyebar ke permukiman,” ujar H. Ajiz sapaan akrab kepada wartawan, Jumat (14/8/2026).

Menurutnya, keberadaan perusahaan awalnya diharapkan dapat memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar. Namun, harapan tersebut tidak sejalan dengan kenyataan yang dirasakan warga.

“Kami bukan menolak investasi atau perusahaan. Tetapi perusahaan harus menghormati lingkungan dan masyarakat sekitar. Jangan sampai keuntungan perusahaan dibayar dengan kenyamanan dan kesehatan warga,” katanya.

Debu Jagung Diduga Ganggu Aktivitas Warga

Warga menyebut limbah jagung yang beterbangan tidak hanya mengotori lingkungan, tetapi juga mengganggu aktivitas sehari-hari. Saat angin bertiup kencang, debu halus dari tumpukan jagung disebut menyebar ke permukiman dan sulit dibersihkan.

Beberapa warga mengaku harus lebih sering membersihkan rumah karena debu jagung cepat menumpuk. Kondisi tersebut juga dikhawatirkan dapat berdampak pada kesehatan, terutama bagi anak-anak, lansia, dan warga yang memiliki riwayat gangguan pernapasan.

H. Ajiz mengatakan persoalan tersebut bukan kejadian sesaat, melainkan sudah berlangsung sejak perusahaan mulai beroperasi.

“Sudah lebih dari setahun. Kami berkali-kali mengeluh. Bahkan ada warga yang datang langsung menyampaikan keberatan, tetapi tidak ada respons yang benar-benar menyelesaikan masalah,” ujarnya.

Menurut warga, perusahaan seharusnya memiliki sistem pengendalian debu, seperti penutupan area penyimpanan, penyemprotan berkala, atau fasilitas lain yang dapat meminimalkan penyebaran limbah ke luar area operasional.

Tidak Pernah Ada Sosialisasi

Selain persoalan limbah, warga juga menyoroti minimnya komunikasi antara perusahaan dengan masyarakat. Mereka mengaku tidak pernah mendapatkan sosialisasi sebelum perusahaan beroperasi maupun selama kegiatan usaha berlangsung.

H. Ajiz mengatakan masyarakat tidak pernah dilibatkan dalam pembahasan mengenai dampak lingkungan, lalu lintas kendaraan, maupun mekanisme penanganan limbah.

“Yang kami pertanyakan, kenapa perusahaan bisa beroperasi tanpa pernah mengadakan sosialisasi kepada warga sekitar? Kami tidak pernah diundang, tidak pernah dijelaskan aktivitas perusahaan, potensi dampaknya, atau langkah-langkah pengelolaan lingkungan,” katanya.

Ia menilai kondisi tersebut menimbulkan kesan bahwa masyarakat di sekitar perusahaan tidak dianggap sebagai pihak yang terdampak langsung oleh aktivitas industri.

Tenaga Kerja Lokal Dipertanyakan

Keluhan lain yang disampaikan warga berkaitan dengan penyerapan tenaga kerja. Mereka menyebut sebagian besar pekerja di perusahaan tersebut berasal dari luar daerah, termasuk petugas keamanan.

Menurut H. Ajiz, masyarakat sekitar berharap perusahaan dapat memberikan manfaat ekonomi melalui kesempatan kerja bagi warga lokal.

“Yang bekerja kebanyakan orang luar. Bahkan untuk satpam pun bukan warga sekitar. Kami berharap perusahaan juga memberdayakan masyarakat di Dusun Teluk Waru, bukan hanya memanfaatkan lokasi di desa kami,” ujarnya.

Warga menilai keterlibatan masyarakat lokal penting untuk menciptakan hubungan yang baik antara perusahaan dan lingkungan sekitar.

Dugaan Belum Kantongi Izin Operasional

Di tengah keluhan yang terus berlangsung, warga juga mempertanyakan legalitas operasional PT Juro Agro Nusantara. Mereka menduga perusahaan belum mengantongi izin yang lengkap untuk menjalankan kegiatan pengelolaan jagung di wilayah tersebut.

Namun demikian, dugaan tersebut masih perlu diverifikasi oleh instansi yang berwenang, termasuk dinas yang membidangi perizinan dan lingkungan hidup.

H. Ajiz berharap pemerintah daerah melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap aktivitas perusahaan.

“Kalau memang izinnya lengkap, tunjukkan kepada masyarakat. Kalau belum lengkap, pemerintah harus bertindak. Jangan sampai perusahaan terus beroperasi sementara warga yang menanggung dampaknya,” katanya.

Hingga berita ini ditulis, pihak PT Juro Agro Nusantara belum memberikan keterangan resmi terkait keluhan warga tersebut.

Wartawan telah mendatangi lokasi perusahaan untuk meminta konfirmasi. Namun, petugas keamanan (satpam) yang berjaga menyampaikan bahwa pimpinan perusahaan sedang berada di Jakarta sehingga belum dapat memberikan tanggapan.

“Bos sedang di Jakarta,” ujar petugas keamanan saat ditemui di lokasi.


Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar