WARTABUMIGORA.ID|LOMBOK UTARA - Putra Pandanan FC secara resmi melayangkan surat protes dan permohonan diskualifikasi Poram FC kepada Panitia Liga 4 Piala Bupati Lombok Utara, Senin, 21 September 2026.
Surat tersebut disampaikan sebagai tindak lanjut atas insiden dalam pertandingan Poram FC melawan Putra Pandanan FC sehari sebelumnya, yang diwarnai masuknya seseorang memukul wasit dari area pendukung ke lapangan dan dugaan membawa senjata tajam saat mengejar wasit dalam pertandingan.
Putra Pandanan FC menilai peristiwa tersebut harus ditangani secara serius karena tidak lagi sebatas tensi pertandingan, melainkan telah menyangkut keselamatan wasit, pemain, official, serta kredibilitas penyelenggaraan Liga 4 Piala Bupati Lombok Utara.
Melalui surat tersebut, Putra Pandanan FC meminta panitia melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap rekaman pertandingan, dokumentasi foto dan video, keterangan wasit, perangkat pertandingan, petugas keamanan serta pihak-pihak yang mengetahui kejadian.
Official Putra Pandanan FC, Abed Aljabiri Adnan, menegaskan bahwa surat protes tersebut merupakan langkah resmi klub untuk meminta panitia menjalankan aturan kompetisi dan kesepakatan technical meeting secara konsisten.
“Hari ini kami secara resmi menyerahkan surat protes kepada Panitia Liga 4 Piala Bupati Lombok Utara. Sikap kami jelas: apabila berdasarkan bukti dan pemeriksaan panitia terbukti terjadi pelanggaran berat sebagaimana yang telah diatur dalam hasil TM dan regulasi pertandingan, maka Poram FC harus didiskualifikasi,” tegas Abed.
Menurut Abed, panitia tidak boleh memperlakukan insiden yang menyangkut keselamatan perangkat pertandingan sebagai persoalan biasa.
“Kalau seseorang bisa masuk ke lapangan, mengejar wasit dan diduga membawa senjata tajam, maka ini bukan lagi sekadar persoalan sepak bola. Ini sudah menyangkut keselamatan manusia. Kami meminta panitia jangan ragu mengambil keputusan tegas hanya karena mempertimbangkan tekanan atau kepentingan tertentu,” lanjutnya.
Putra Pandanan FC juga meminta agar pengawas pertandingan dan sistem keamanan dievaluasi secara menyeluruh. Apabila ditemukan kelalaian yang menyebabkan orang dari luar pertandingan dapat memasuki lapangan dan mengancam perangkat pertandingan, pihak yang bertanggung jawab diminta diberikan sanksi sesuai kewenangan panitia.
Putra Pandanan FC menegaskan bahwa tuntutan diskualifikasi tersebut bukan bentuk permusuhan terhadap klub maupun masyarakat tertentu, melainkan upaya menjaga marwah kompetisi dan memastikan seluruh peserta tunduk pada aturan yang sama.
“Kami tidak meminta keistimewaan. Kami hanya meminta aturan ditegakkan. Kalau kompetisi ingin dihormati, maka pelanggaran berat harus dijawab dengan keputusan yang tegas, objektif dan transparan,” tutup Abed.

0 Komentar