WARTABUMIGORA.ID|MATARAM – Lonjakan investasi di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) ternyata belum mampu menurunkan angka pengangguran. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) NTB, Wahyudin, mengungkapkan bahwa peningkatan investasi tidak otomatis berbanding lurus dengan serapan tenaga kerja.
Menurutnya, sebagian besar dana yang masuk ke NTB berasal dari investasi padat modal, bukan padat karya, sehingga kebutuhan tenaga kerja relatif rendah.
“Lebih dari 50 persen investasi yang masuk di NTB itu padat modal,” jelas Wahyudin, Jumaat (28/11/2025).
Investasi besar yang mendominasi antara lain terdapat di sektor pertambangan seperti PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) dan proyek pengembangan kawasan pariwisata Mandalika.
Berdasarkan rilis terbaru BPS, angka pengangguran pada 2025 meningkat lebih dari 10 ribu orang, atau naik 0,33 persen dari tahun sebelumnya yang berada di angka 2,73 persen.
Wahyudin menyebutkan bahwa kenaikan ini juga dipengaruhi bertambahnya jumlah angkatan kerja yang tidak dapat sepenuhnya terserap pasar kerja.
“Jumlah angkatan kerja bertambah, tetapi tidak diimbangi dengan serapan tenaga kerja,” ujarnya.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Wahyudin mendorong pemerintah daerah agar lebih mengutamakan investasi yang padat karya, terutama lewat hilirisasi sektor pertambangan yang bisa dikolaborasikan dengan industri ekonomi kreatif.
Selain itu, sektor pertanian NTB seperti padi dan jagung memiliki potensi besar untuk dikembangkan. Salah satu peluang yang belum tergarap ialah pembangunan industri pengolahan pakan ternak.
“Banyak potensi yang kita miliki justru dibawa keluar daerah. Kita belum membangun industri pakan ternak,” katanya.
Ia berharap berbagai potensi sumber daya alam NTB bisa menarik lebih banyak investor yang mampu membuka lapangan kerja baru dan lebih luas.
Data Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) menunjukkan realisasi investasi NTB hingga triwulan III tahun 2025 mencapai Rp48,98 triliun, atau 80,18 persen dari target nasional sebesar Rp61,09 triliun.
Pada periode Juni–September 2025 saja, investasi yang terealisasi menembus Rp20,17 triliun.
Sektor Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) masih menjadi primadona dengan nilai investasi Rp16,29 triliun, disusul sektor pariwisata dan ekonomi kreatif sebesar Rp1,26 triliun, serta perindustrian Rp955 miliar.
Secara regional, Kabupaten Sumbawa Barat menempati posisi tertinggi dengan nilai investasi Rp15,65 triliun, disusul Lombok Tengah Rp2,36 triliun dan Lombok Utara Rp489 miliar.

0 Komentar