SPACE IKLAN

header ads

Festival Bau Nyale 2026 Kembali Hidupkan Mandalika, Tradisi Putri Mandalika Jadi Magnet Wisata dan UMKM

Foto. Istimewa.

Laporan: ll
Minggu, 8 Februari 2026

WARTABUMIGORA.ID | LOMBOK TENGAH – Festival Bau Nyale 2026 kembali membuktikan diri sebagai salah satu event pariwisata terbesar di Nusa Tenggara Barat (NTB). Tradisi tahunan yang berakar dari legenda pengorbanan Putri Mandalika ini bukan hanya menjadi daya tarik budaya, tetapi juga mampu menggerakkan roda ekonomi masyarakat, khususnya pelaku UMKM di kawasan Mandalika.

Gubernur NTB, Dr. Lalu Muhamad Iqbal, menegaskan bahwa nilai pengorbanan Putri Mandalika merupakan warisan kearifan lokal yang harus terus dijaga dan dimaknai sebagai semangat membangun daerah.

“Pengorbanan seperti yang dilakukan Putri Mandalika dalam legenda adalah kearifan lokal yang mengiringi doa kita dalam membangun NTB Makmur Mendunia,” ujar Gubernur Iqbal saat memberikan sambutan di Pantai Seger, Kuta Mandalika, Lombok Tengah, Sabtu (7/2/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Gubernur hadir didampingi Wakil Bupati Lombok Tengah, Kapolda NTB, serta Wakapolda NTB.

Ribuan Warga Padati Pantai Seger, Wisatawan Mancanegara Turut Antusias

Festival Bau Nyale tahun ini dihadiri ribuan masyarakat dari berbagai daerah di NTB. Mereka berbaur dengan wisatawan mancanegara yang ikut penasaran menyaksikan tradisi unik berburu cacing laut (nyale) yang menjadi puncak acara pada dini hari.

Meski demikian, kondisi cuaca yang kurang bersahabat menyebabkan beberapa agenda tidak dapat ditampilkan, seperti penobatan Putri Mandalika, penampilan Band Geisha, serta sejumlah pertunjukan kesenian lokal termasuk band Bapack Guru.

Namun, pembukaan festival melalui kesenian tradisi Betandak tetap berhasil memukau penonton, membawa suasana festival terasa kental dengan nuansa masa lalu yang sederhana namun sarat makna.

UMKM Berjejer, Akses Jalan Sempit Jadi Sorotan

Sejak pintu masuk menuju Pantai Seger, deretan pedagang UMKM tampak memenuhi sisi jalan, seolah menyambut lonjakan pengunjung yang terus berdatangan sejak siang hari.

Namun, akses menuju lokasi festival menjadi salah satu kendala. Jalan masuk yang sempit, diapit pagar pembatas Sirkuit Internasional Mandalika dan hamparan danau air payau, membuat arus lalu lintas kendaraan tersendat.

Hal serupa dialami pengunjung dari arah Hotel Novotel Kuta. Mereka harus bersabar mengantre untuk menyeberangi jembatan kayu di atas danau sebelum tiba di lokasi festival.

Tata Panggung Berbeda, Penonton Menyebar hingga Perbukitan

Festival Bau Nyale 2026 juga terasa berbeda karena tata letak panggung dan tribun penonton yang terpisah, dihubungkan oleh jembatan kecil di atas jalan menuju pantai. Kondisi ini membuat pengunjung tidak terpusat di satu titik, melainkan menyebar di berbagai sudut lokasi.

Pemandangan ribuan penonton yang memadati area pantai bahkan hingga perbukitan sekitar, lengkap dengan tenda dan lampu penerangan, menciptakan kesan festival rakyat yang megah dengan lanskap alam sebagai panggung utamanya.

Suasana semakin semarak karena pengunjung tampak antusias menanti puncak acara menangkap nyale pada dini hari.

Panitia Optimistis Tradisi Bau Nyale Tetap Lestari

Penanggung jawab Festival Bau Nyale 2026, Lalu Gde Diaz, mengungkapkan rasa lega karena kegiatan tradisi ini kembali berjalan meriah dan dapat dinikmati masyarakat luas.

“Kami optimis, festival tradisi ini akan terus lestari dan mendatangkan manfaat bagi masyarakat,” ungkapnya.

Pengunjung Lokal hingga Wisatawan Perancis Terpikat Tradisi Mandalika

Salah satu pengunjung, Mak Ace (65) asal Kabupaten Lombok Utara, mengaku datang bersama keluarga untuk menikmati suasana Pantai Seger sekaligus menyaksikan langsung tradisi Bau Nyale.

“Sekalian liburan bersama keluarga juga ingin melihat langsung tradisi menangkap nyale,” katanya penuh semangat.

Sementara itu, Christina (30) wisatawan asal Perancis, mengaku awalnya tidak mengetahui adanya Festival Bau Nyale. Namun setelah mendengar kisah Putri Mandalika saat berlibur di Kuta, ia tertarik untuk datang.

“Never heard this festival before. But since I stayed at Kuta a day ago and heard the story, I decided to come here to see the tradition,” ucapnya.

Festival Bau Nyale 2026 kembali menjadi bukti bahwa tradisi dan pariwisata dapat berjalan beriringan, sekaligus memperkuat identitas budaya NTB di mata dunia.

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar