SPACE IKLAN

header ads

Didukung Tokoh Adat Sasak, “Meton Ichal” Siap Bertarung di Pilkada Mataram

Foto. Istimewa.

Laporan: Laila
Senin, 4 Mei 2026

WARTABUMIGORA.ID|MATARAM – Peta politik jelang Pemilihan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Mataram mulai menghangat. Dukungan terhadap figur-figur potensial terus bermunculan, termasuk kepada IR. I Nengah Sugiartha atau yang dikenal dengan sapaan akrab Bang Ichal.

Kali ini, dukungan datang dari Ketua Majelis Adat Sasak (MAS), Lalu Sajim Sastrawan. Ia secara terbuka menyatakan dukungannya kepada Bang Ichal untuk maju dan melanjutkan pengabdian bagi Kota Mataram.

Menurut Lalu Sajim, rekam jejak panjang Ichal di birokrasi menjadi salah satu alasan utama dukungan tersebut. Ia menilai kepemimpinan Bang Ichal sudah teruji dan mampu menjawab tantangan pembangunan kota ke depan.

“Saya sudah lama mengenal Ichal, karena sepak terjangnya di birokrasi. Kepemimpinannya sudah tidak diragukan lagi,” ungkapnya.

Tak hanya itu, Ichal juga dinilai sebagai figur nasionalis yang mampu merangkul berbagai kalangan. Pengalamannya di sejumlah organisasi, termasuk KNPI, memperkuat kapasitasnya sebagai pemimpin yang inklusif.

“Tidak hanya pengalaman di birokrasi saja, Ichal juga pernah aktif di beberapa organisasi seperti KNPI,” sambung Lalu Sajim.

Dukungan ini juga dipandang sebagai simbol penting dalam menjaga keterwakilan umat Hindu di tingkat kebijakan, sekaligus memperkuat harmoni antarumat beragama di Kota Mataram yang selama ini dikenal rukun dan toleran.

Sosok “Meton Ichal” sendiri dikenal dekat dengan masyarakat. Julukan Meton yang berarti saudara mencerminkan kedekatan emosionalnya dengan berbagai lapisan warga tanpa memandang latar belakang.

Dengan dukungan dari tokoh adat Sasak, posisi Ichal dalam bursa Pilkada Mataram diyakini semakin menguat. Ia membawa visi pemerataan pembangunan, peningkatan layanan publik, serta penguatan nilai toleransi sebagai fondasi utama kota.

Mengusung motto “Merakyat, Jamak-jamak, Bisa Dipercaya!”, Bang Ichal menyatakan kesiapannya untuk maju dalam kontestasi politik mendatang.

Dalam pernyataannya, ia menegaskan bahwa Mataram bukan sekadar kota, melainkan simbol harmoni dan keberagaman.

“Kota Mataram adalah rumah bagi sejarah, saksi dari harmoni. Kita berdiri di tanah di mana menara masjid berdampingan dengan pura, dan keberagaman menjadi kekuatan utama,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa pengalaman panjangnya selama 31 tahun di birokrasi serta dua periode di legislatif menjadi modal kuat dalam memimpin.

“Saya berkeyakinan, dengan pengalaman yang saya miliki dan dukungan dari Majelis Adat Sasak, menambah semangat saya untuk mengikuti kontestasi politik ke depan,” tutupnya.

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar