WARTABUMIGORA.ID|SUMBAWA-Proyek penanganan long segment ruas jalan Lunyuk–Lenangguar di Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB), senilai Rp 19 miliar belum juga rampung meski masa kontrak dan tambahan waktu (adendum) telah berakhir.
Proyek yang dibiayai melalui APBD I Pemerintah Provinsi NTB dan berada di bawah Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) NTB itu sedianya selesai pada 31 Desember 2025. Namun pekerjaan belum tuntas hingga tenggat tersebut, sehingga diberikan perpanjangan waktu selama 50 hari terhitung sejak 1 Januari 2026. Masa adendum itu pun telah berakhir pada pekan lalu.
Menurut informasi media ini progres fisik pekerjaan diduga baru mencapai sekitar 50 persen.
Sementara itu, beredar informasi bahwa pencairan anggaran telah menyentuh kisaran 70 persen.
Anggota Komisi IV DPRD NTB dari Fraksi PDI Perjuangan, Abdul Rahim, mengatakan pihaknya akan meminta klarifikasi resmi dari dinas terkait.
“Saya mendapat informasi progres fisik masih sekitar 50 persen, sementara isu yang beredar pencairan anggaran sudah 70 persen. Kami akan berkoordinasi dan memanggil dinas terkait untuk meminta penjelasan resmi,” ujarnya.
Ia menegaskan Komisi IV akan memperketat fungsi pengawasan agar penggunaan anggaran sesuai ketentuan dan tidak merugikan keuangan daerah.
Proyek tersebut dikerjakan oleh PT Amar Jaya Perkasa sebagai kontraktor pelaksana. Namun, di lapangan muncul informasi bahwa pekerjaan sempat dialihkan ke pihak lain di tengah proses pelaksanaan.
Hingga berita ini diturunkan, pihak kontraktor maupun Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) belum memberikan keterangan resmi terkait keterlambatan tersebut.
Sejumlah pihak juga menyoroti proses tender proyek yang disebut-sebut mengandung kejanggalan sejak awal.
Dugaan lemahnya verifikasi teknis dan administrasi dalam penetapan pemenang menjadi perhatian, termasuk terkait verifikasi kepemilikan Asphalt Mixing Plant (AMP).
Dampak keterlambatan proyek kini dirasakan langsung masyarakat. Kondisi jalan di jalur Lunyuk–Lenangguar dilaporkan rusak berat dan berlubang, terutama pada musim hujan.
Genangan air kerap menutup lubang, sehingga membahayakan pengendara.
Pada 23 Februari 2026, sebuah truk pengangkut jagung dilaporkan terguling setelah terperosok ke lubang jalan di jalur selatan Lunyuk–Lenangguar. Warga setempat menyebut insiden itu merupakan kejadian kedua dalam sepekan di lokasi yang sama.
Akibat kerusakan jalan, arus distribusi hasil pertanian dan perikanan dikhawatirkan terganggu. Jalur tersebut merupakan akses penting bagi petani dan nelayan di wilayah selatan Sumbawa.
Publik kini menanti langkah tegas Pemerintah Provinsi NTB untuk memastikan kelanjutan proyek dan mengevaluasi pelaksanaan kontrak.
DPRD menegaskan akan mengawal persoalan ini agar proyek infrastruktur yang menggunakan dana publik dapat diselesaikan sesuai ketentuan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

0 Komentar